Home Khasanah Mewarisi Iktiar Tolak Bala Ala Sunan Kalijaga

Mewarisi Iktiar Tolak Bala Ala Sunan Kalijaga

by Fatur Rohman
0 comment

Pagebluk yang disebut covid-19 melanda nusantara sudah hitungan 9 bulan lebih. Covid–19 yang mulai merajalela dimuka bumi mulai Desember 2019 ini meluluhlantakkan berbagai sektor kehidupan. Berbagai iktiar telah dilakukan masyarakat di Nusantara ini, tentunya mengikuti arahan protokol kesehatan (bermasker, jaga jarak, tetap dirumah dan selalu cuci tangan), ada juga yang mengkonsumsi ramuan jamu, ada pula yang bermunajat pada Allah SWT lewat do’a.

Kanjeng Sunan Kalijaga punya cara untuk menolak bala termasuk pagebluk. Beliau biasanya melantunkan sebuah kidung yang pada hakekatnya adalah do’a tolak bala. Kidung “Rumekso Ing Wengi”  adalah karya mantan Brandal Lokajaya ini biasanya ditembangkan pada malam hari.

Kidung karya Sunan Kalijaga ini bertujuan untuk menyingkirkan diri (masyarakat) dari balak atau gangguan, baik yang nampak maupun tidak. Kidung “Rumeksa Ing Wengi” punya makna lebih mendalam mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat.

Di kalangan masyarakat Jawa tembang atawa kidung “Rumeksa Ing Wengi”ini sudah dianggap seperti “mantra” di bumi Melayu sebagai ‘mantra’. Bahkan, dulu untuk mengamalkan kidung ini harus ‘puasa mutih’ selama 40 hari dan ‘ngebleng’ semalam. Kidung ini dulu dibaca di halaman rumah atau pelataran waktu tengah malam sebanyak 11 kali.

Kalau di Kraton Mataram di Jawa setelah berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Demak, setiap kali ada wabah yang disebut ‘ pageblug’ pada masa kini disebut pendemi yang meluas maka pihak kerajaan biasanya menggelar kirab Bendera Tunggul Wulung yang menjadi pusaka kraton. Bendera berwarna hitam ini dibawa ke segenap pelosok. Tujuannya untuk meminta doa agar wabah segera berlalu.

Pada saat terjadi pageblug, Kanjeng Sunan Kalijaga memimpin sekaligus memulai mendedahkan kidung “Kidung Rumeksa Ing Wengi’ yang kemudian diteruskan bergantian menembangkan baik-bait kidungnya :

Ana kidung rumekso ing wengi, Teguh hayu luputa ing lara 
luputa bilahi kabeh, 
jim setan datan purun, 
paneluhan tan ana wani, 
niwah panggawe ala, 
gunaning wong luput, geni atemahan tirta, 
maling adoh tan ana ngarah ing mami
, guna duduk pan sirno

(Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.)

Sakehing lara pan samya bali, Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune, Sakehing braja luput, Kadi kapuk tibaning wesi, Sakehing wisa tawa, 
Sato galak tutut, Kayu aeng lemah sangar, Songing landhak guwaning 
Wong lemah miring, Myang pakiponing merak

(Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.)

Pagupakaning warak sakalir, 
Nadyan arca myang segara asat 
Temahan rahayu kabeh, 
Apan sarira ayu, 
Ingideran kang widadari, Rineksa malaekat, Lan sagung pra rasul, 
Pinayungan ing Hyang Suksma, Ati Adam utekku baginda Esis, Pangucapku ya Musa

(Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.)

Napasku nabi Ngisa linuwih, 
Nabi Yakup pamiryarsaningwang, Dawud suwaraku mangke, Nabi brahim nyawaku, Nabi Sleman kasekten mami, Nabi Yusuf rupeng wang, 
Edris ing rambutku, Baginda Ngali kuliting wang,
Abubakar getih daging Ngumar singgih, Balung baginda ngusman

(Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakub pendengaranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi rupaku. Ali sebagai kulitku. Abu Bakar darahku dan Umar dagingku. Sedangkan Usman sebagai tulangku.)

Sumsumingsun Patimah linuwih, Siti aminah bayuning angga, Ayup ing ususku mangke,
Nabi Nuh ing jejantung, 
Nabi Yunus ing otot mami
,Netraku ya Muhammad, Pamuluku Rasul, Pinayungan Adam Kawa,
Sampun pepak sakathahe para nabi, Dadya sarira tunggal

(Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti Aminah sebagai kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada di dalam ususku. Nabi Nuh di dalam jantungku. Nabi Yunus di dalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhammad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.)

Begitulah kidung “Rumekso Ing Wengi” karya Sunan Kalijaga, hakekatnya adalah permunajatan pada Allah SWT. Semoga kita selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa. Selamat, dijauhkan dari kesukaran dan kalis dari sambi kala. Amin.. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More