Home Khasanah Gus Baha : Sederhana Dalam Hidup, Semua Kalangan Mengakui Kejeniusannya

Gus Baha : Sederhana Dalam Hidup, Semua Kalangan Mengakui Kejeniusannya

by Fatur Rohman
0 comment

Munculnya nama kiai muda, Baha’uddin Nursalim (Gus Baha) di era milenial ini langsung merebut perhatian publik. Sosok pendakwah yang suka keluyuran, bahkan tiap kajian yang disampaikannya sering menyoal pentingnya keluyuran. Ia mengutip ayat-ayat Alquran yang menjelaskan tentang pentingnya perjalanan.

Menurut Gus Baha,  keluyuran sangat penting agar menambah wawasan dan pengalaman, jangan berdiam diri saja sambil berharap tiba-tiba bisa jadi wali.

Gus Baha’ atau KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Seorang santri kesayangan Hadratus Syaikh Maimoen Zubair. Tak kurang dari mufassir sekaliber Prof. Quraish Syihab, memuji kecerdasan Gus Baha. Menurut ayahanda Najwa Shihab itu, Gus Baha adalah sosok langka karena menguasai tafsir sekaligus fikih.

Selesai menghafal Alquran beserta qiroahnya kepada ayahanda Kiai Nursalim di Kragan, Rembang, Baha kemudian melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen. Di bawah asuhan Mbah Moen, Gus Baha menghafal berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in (fiqih), Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya (hadis), dan kitab-kitab lain. Sudah barang tentu kitab tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah, tandas dihafalnya.

Sekalipun hanya mengaji di pesantren asuhan ayahnya dan Mbah Moen, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Ia masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, ia pernah ditawari untuk menerima gelar doktor honoris causa dari UII, tapi ia menolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding.

Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ada serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semerawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah saat mengutip beragam riferensi kitab-kitab klasik.

Bahasanya yang sederhana dan lugas, mudah dicerna oleh pendengar dan pemirsa. Dengan jernih ia membongkar trik-trik ulama Wahabi dalam mendiskreditkan ulama-ulama Sunny dengan logika yang menjebak, misalnya soal bid’ah yang membandingkan antara Imam Syafi’i dengan Nabi Muhammad. “Mau ikut Nabi atau Imam Syafi’i?” Begitulah pertanyaan diajukan sehingga orang yang awam akan mudah terkecoh. Padahal persoalan yang disajikan tidak sesederhana itu.

Menurutnya, banyak hal yang tidak diamalkan dan diajarkan langsung oleh Nabi, tetapi dilakukan oleh para sahabat, dan Nabi Muhammad membenarkan amaliah mereka itu. Dengan demikian, soal bidah ini tidak sederhana sehingga Imam Syafi’i kemudian membaginya dalam dua kategori: yang baik dan yang buruk.

Gus Baha juga membahas soal tuduhan kafir kepada warga Nahdliyin yang tahlilan. Ia menunjukkan kesesatan berpikir dalam tuduhan yang ngawur ini.

“Orang yang 80 tahun kafir, lalu mengucap ‘laa ilaaha illallah’ maka ia menjadi mukmin. Lah kita yang selalu membaca ‘la ilaaha illallah’ dalam tahlilan, kok dicap kafir? Ini mazhab yang aneh!” ujarnya lugas.

Yang menyenangkan, kedalaman ilmunya itu dibarengi dengan sikap tawaduknya yang dalam. Sekalipun ia bisa menguliti kesalahan pendapat yang menyerang NU, tak pernah ia menyerang seseorang atau menyinggung pribadi seseorang di majlis pengajiannya.

Tak heran jika saat itu menjadi anggota NU tidak sembarangan, ada serangkaian test dan kewajiban membayar iuran bulanan. Ringkasnya, NU memang organisasinya orang alim, sesuai namanya. Dan pesantren sebagai pondasi NU, terus menghasilkan ulama yang akan menjadi pengelolanya.

Gus Baha adalah bukti bahwa pesantren-pesantren NU terus produktif menghasilkan ulama. Hal ini bisa menambah rasa optimisme bahwa NU akan terus berkembang dan memandu Islam di Nusantara dan dunia.

Pesantren NU tak akan pernah kekurangan orang alim. Tugas para aktivis media di lingkungan NU adalah bagaimana memberi panggung kepada para ulama ini. Agar umat Islam tidak terus menerus terkecoh oleh ulama karbitan yang “serba bisa” menjawab seluruh masalah keagamaan jamaahnya. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More