Home Peristiwa Nasib TKI Tulungagung Pemakan Nasi Busuk Di Riyadh

Nasib TKI Tulungagung Pemakan Nasi Busuk Di Riyadh

by Fatur Rohman
0 comment

TULUNGAGUNG I MATAHATI.NEWS – Hujan emas dinegeri orang, ternyata lebih baik hujan batu dinegeri sendiri. Saat menjadi TKI di Arab Saudi, tentunya dalam bayangan Dicky Kurniawan, pemuda asal Dusun Umbut Sewu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, pada awalnya.  Namun, justru penderitaan yang dia dapat di negeri orang. Betapa tidak, Dicky malah kelaparan hingga makan nasi busuk dari sampah.

Beruntung pertolongan datang, pihak KBRI Riyadh Arab Saudi tiba di tempat kerjanya , senin (28/9/2020). Pihak KBRI langsung membawa Dicky ke KBRI untuk proses penerbangan pulang ke Indonesia. Dicky mengaku senang karena pemerintah telah membantu semua proses di negara tempatnya bekerja.

“Prosesnya sekitar dua Minggu mas, Alhamdulillah hari ini saya kedatangan pihak KBRI dan membantu kepulangan saya” kata Dicky

Semetara itu atase kepolisian KBRI Riyadh kombespol Moch.Fahrurrozy kepada wartawan membenarkan penjemputan tersebut. Menurutnya pihak KBRI saat ini tengah memboking tiket kepulangan Dicky ke Indonesia.

Ditanya soal kasus yang menimpa Dicky , Fahrurrozi mengaku tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan penyidikan. Apalagi jika pelaku sudah tidak berada di Arab Saudi, dia menyerahkan sepenuhnya proses penyidikan kepada kepolisian di Indonesia.

“Perwakilan kan tidak punya kewenangan penyidikan. Ketika kita menerima laporan dari korban, maka kita akan bantu proses penyidikan rekan-rekan kepolisian di Indonesia,” terangnya.

Kombes Pol Moch. Fahrurrozi melanjutkan, bilamana pelaku ada di Arab Saudi kemungkinan pihaknya akan membawa kasus tersebut ke ranah kepolisian Arab Saudi.

“Fungsi kita kan melakukan koordinasi, baik dengan kepolisian di Indonesia maupun kepolisian Arab Saudi. Jadi terkait kasus yang menimpa Dicky dan temanya kita lihat dulu situasi dan kondisi di lapangan,” paparnya.

Seperti diketahui Dicky bersama 2 teman lainya mengaku ditipu oleh perantara . Mulai dari dokumen/ kontrak kerja ,hingga waktu bekerja yang mencapai 12 jam dalam sehari.

Akibatnya , Dicky mengalami sakit hingga tidak mampu bekerja lagi. Akhirnya Resiko dia terima dan harus diberhentikan dari tempat kerja majikanya.

Semenjak itu tepatnya bulan februari 2020 , nasib mereka sungguh memprihatinkan. Untuk makan sehari – hari ketiganya mencari sisa makanan pungutan dari tempat sampah.Nasi serta lauk busuk menjadi makanan mereka sehari – hari.

Bahkan Dicky sakit berbulan – bulan ditempat kerja. Untuk kencing dan buang air besar darah terus mengalir . Untuk bisa pulang , Dicky sempat berkirim surat kepada pemerintah , Menaker hingga Pemerintah daerah. (ali)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More