Home Nasional Hasto Kristiyanto : ” Ada Pengusaha Hitam Sebagai Sponsor Pilkada”

Hasto Kristiyanto : ” Ada Pengusaha Hitam Sebagai Sponsor Pilkada”

by Fatur Rohman
0 comment

SURABAYA I MATAHATI.NEWS – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP) tak akan membiarkan kapitalisme memporakporandakan demokrasi suksesi kepemimpinan nasional di Kota Surabaya.Dengan mempertimbangkan sebaik – baiknya suksesi kepemimpinan di beberapa daerah strategis sebagai tanggungjawab menyejahterakan rakyat, menjaga konstitusi, NKRI dan kebhinekaan bangsa dan negara.

Untuk itu DPP PDIP melalui perintah Megawati Soekarno Putri menugaskan dirinya, bersama beberapa petinggi partai antara lain, Arif Wibowo, Tri Risma Harini, Djarot Syaiful Hidayat, untuk berkonsolidasi menjaga visi misi partai dalam kontestasi Pilkada serentak di Jatim, terutama Surabaya dan kota lainnya.

Ada lima daerah strategis yang rekomendasi PDIP akan diumumkan belakangan demi menuntaskan konsolidasi internal yang lebih masif. Karena siapapun yang ditetapkan mendapat rekomendasi dari Ketua DPP Megawati Soekarno Putri, seluruh anggota wajib mematuhinya.

Sementara itu, sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto kembali membuat pernyataan mengejutkan. Setelah mengungkap indikasi adanya ‘pengusaha hitam’ yang menjadi sponsor Pilkada. Hasto menyebut ada kekuatan kapital yang tersembunyi di Pilwali Surabaya 2020.

Dia menegaskan, PDI Perjuangan meyakini bahwa rakyat Surabaya memiliki kesadaran dan semangat juang untuk menjaga Surabaya agar tidak jatuh ke tangan mereka yang ingin merombak tata keindahan kota, hanya karena daya gerak kekuatan modal.

“Bagaikan Pasukan Sekutu yang mencoba merampas kedaulatan NKRI dengan NICA di belakangnya, kini pun ada kekuatan tersembunyi yang mencoba hadir dengan ‘meriam kapitalnya’ untuk merebut Surabaya. Pertimbangan mereka murni kekuasaan dan kapital,” kata Hasto dalam keterangan tertulisnya.

Menariknya, Hasto mengungkapkan hal itu menjelang pengumuman pasangan calon wali kota (Cawali) dan wakil wali kota (Cawawali) Surabaya akan digelar secara virtual pada Rabu (2/9/2020) besok. Sementara sampai saat ini, baru ada pasangan Machfud Arifin dan Mujiaman Sukirno yang siap maju di Pilwali Surabaya yang digelar Desember 2020. Pasangan ini telah didukung delapan parpol, yakni Partai Gerindra, Demokrat, PKS, PKB, PAN, Golkar, Nasdem, dan PPP.

Menurut Hasto, PDI Perjuangan menempatkan Kota Surabaya sebagai panggung politik utama setelah Jakarta. Surabaya tidak hanya kota terbesar kedua Indonesia. Surabaya telah menjadi best practices, kota sederet prestasi. “Surabaya sangat layak ditempatkan sebagai puncak pengumuman calon kepala daerah dan wakil kepala daerah PDI Perjuangan. Di kota inilah semangat nasionalisme dan patriotisme tumbuh subur. Di kota inilah semangat hubbul wathon minal iman berkumandang menghalau bala tentara sekutu,” tandas Hasto.

Sebelumnya, Hasto mengatakan Kota Surabaya berhasil menjadi kota yang maju, cantik, dan ramah lingkungan selama dipimpin Wali Kota Tri Rismaharini alias Risma. Oleh karena itu, PDIP ingin mempertahankan hal itu karena tak mau ke depan Kota Pahlawan dikuasai oleh “pengusaha hitam” yang hanya memiliki kepentingan bisnis semata.

Menanggapi hal itu, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengingatkan Hasto agar jangan sampai perkataannya menampuk air di dulang. Pangi mengingatkan semua parpol sama saja dalam soal pendanaan politik, tidak terkecuali PDIP. “Hampir semua partai mengalami persoalan klasik yang sama (pendanaan), jangan sampai menampuk air di dulang, memercik muka sendiri,” ujar Pangi, Senin (31/8).

“Saya pikir semua partai lagunya sama, butuh bandar/sponsor dari cukong untuk maju memenangkan pilkada. Karena pembiayaan pilkada kita itu tinggi,” sambung dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Lebih lanjut, Pangi mengatakan realitas politik di Indonesia memang mamaksa calon kepala daerah harus mau mengeluarkan uang. Menurut Pangi seorang calon kepala daerah tak cukup hanya bermodal janji dan gagasan politik saja. “Untuk rakyat memilih, butuh uang dan sembako. Kalau kita hanya jual gagasan dan ide, dibilang calon kepala daerah sinting, bahkan ditertawakan menjadi bahan ejekan dan lelucon politik. Itulah keadaan sekarang dan realitas politik,” kata Pangi. (ali)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More