Home Khasanah Tetap Menghidupkan Tradisi “Toron” Meski Saat Pandemi

Tetap Menghidupkan Tradisi “Toron” Meski Saat Pandemi

by Fatur Rohman
0 comment

Meski dalam kondisi pandemi covid 19 perayaan Hari Raya Idul Adha masih menjadi keharusan masyarakat Madura untuk  melakukan tradisi “toron”. Tradisi “toron”  mempunyai makna “turun kebawah”, atau biasa disebut mudik.

Tradisi toron bagi orang Madura memiliki makna yang sangat luas, didalamnya ada manifestasi sosial dan religi. Toron-nya orang-orang Madura biasnya dialaksanakan pada Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Namun pada saat Hari Raya Idul Adha, yang kemudian disebut Hari Raya Besar atau Hari Raya Raje (rajhe), toron umumnya dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pedesaan, yang note bene mempunyai tradisi kekerabatan yang sangat kental dan kuat.

Kata toron mempunyai makna turun, namun tidak ada istilah sebaliknya onggha (naik). Karena toron bukan berararti turun dari atas kebawah. Toron merupakan istilah yang menajam sebagai bentuk kekentalan nilai dari dasar toron sendiri. Toron bisa berkembang menjadi toronan yaitu manifestasi dari silsilah keturunan dari tingkat keluarga, dengan pengertian, kembali ke pangkuan orang tua, atau dalam makna “turun temurun”, yang mempunyai arti peristiwa toron telah dilakukan secara turun temurun, yaitu mengikat tali silaturrahmi antar sanak keluarga dan kerabat pendahulunya

Bagi orang Madura toron tidak akan merendahkan martabat orang Madura. Dengan toron justru akan memgembalikan jatidiri dan kodratnya sebagai manusia Madura, karena toron sendiri, pada akhirnya menjadi simbol nilai kekerabatan orang Madura.

Meski ada toron tidak ada istilah ongga (naik), karena ketika orang Madura kembali kedaerah rantauannya kata ongga tidak lagi digunakan, justru kerap disebut dengan istilah alajar (berlayar). Istilah toron merupakan peristiwa spontan dan tak seorangpun dapat mengubah kata toron, kecuali ada istilah lain yang dapat diterima oleh warga Madura.

Kearifan lokal menjadikan media dalam menyusun kebutuhan rohaniah bagi keberlangsungan hidup masyarakat Madura, dimana ia bermukim. Selain agama (Islam) kearifan lokal menjadi pemicu bertahannya sebuah tradisi yang tetap bertahan dan menjadi pertahanan kekerabatan antar warga Madura. Kearifan lokal kerap diekspresiakan dalam bentuk peribahasa seperti :

Andhap asor tampaknya menjadi tolok ukur dalam menanamkan etika dan estetika, termasuk didalamnya tentang kesantunan, kesopanan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur lainnya sehingga menjadi raddin atena, bagus tengka gulina (cantik hatinya, baik tingkah lakunya). Untuk membangun kebersamaan dalam peribahasa diungkap bila cempa, palotan, bila kanca, taretan, (bila beras yaitu ketan, bila teman adalah saudara), hal disimbolkan sebagai bentuk untuk menjaga keutuhan persabatan perlu dijaga: Mon ba’na etobi’ sake’ ja’ nobi’an oreng (kalau kamu dicubit sakit, jangan nyubit orang lain)

Landasan kearifan lokal inilah, yang menjadikan masyarakat Madura sangat diikat dan terikat oleh nilai kekebaratan, sehingga dalam kondisi apapun toron merupakan bentuk “kewajiban” meski secara finansial mereka mempunyai keterbatasan. Bahkan dalam kondisi  masih maraknya wabah covid 19 , mereka tetap toron .

Pertimbanganya, sebagai rasa aktualisasi diri untuk berbagi pada sanak saudara, ketika ekonomi dari hasil kerja kerasnya di tanah rantau itu membuahkan hasil. Dan keberhasilan secara materi adalah suatu kebanggaan dengan perwujudan rasa syukur itu mereka menggelar slamettan. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More