Home Khasanah Berqurban Di Masa Pandemi : Aktualisasi Iman Di Masa Sulit

Berqurban Di Masa Pandemi : Aktualisasi Iman Di Masa Sulit

by Fatur Rohman
0 comment

Tahun ini Idul Adha atau Idul Qurban jatuh pada 31 juli 2020 (10 Dzulhijah 1441), tahun ini pula kegiatan Haji di tanah suci terbatas warga lokal (kerajaan arab saudi) saja. Hal ini dikarenakan wabah Covid 19 masih merajalela secara global. Pemerintah Indonesia menunda pemberangkatan jamaah haji tahun ini. Namun bagaimana dengan pelaksanaan berqurban dimasa pandemi ini?

Bersyukurlah kita, sebagai kaum muslimin, dikaruniai Allah Swt. Idul Adha. Dengan tibanya hari penuh berkah itu, umat Islam saling berbagi daging qurban apalagi dimasa sulit seperti sekarang ini (pandemi).

Di masa pandemi ini semua umat Islam teruji, betapa tidak rata-rata warga dalam hidup yang terbatas karena dampak wabah ini. Nah, yang diuji adalah iman, apakah masih mau mengeluarkan sebagian rizkinya untuk membeli hewan qurban dan di sembelih saat Idul Qurban.

Namun, sering kali  kita lupa apa yang tampak oleh mata berbeda dari apa yang diimani hati. Sekali penglihatan mata tertipu, tertutuplah pintu iman di dalam hati. Kehidupan dunia yang kita jalani sekarang sejatinya hanyalah permainan, senda gurau dan perhiasan belaka. Namun ternyata tidak sedikit manusia terlihat bahagia larut di pusarannya.

Dunia bukan tempat bersenang-senang tetapi banyak orang yang terbuai oleh gemerlap kesenangannya. Dunia diciptakan sebagai tempat lapang untuk berladang bekal hidup di akhirat, namun tidak sebanding dengan jumlah penggarapnya.

Banyak sekali perumpamaan di dalam al-Qur’an yang menggambarkan ketragisan mereka yang terlena kenikmatan duniawi. Antara lain Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus: 24)

Dalam surat yang lain, Allah Swt. juga berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Tak dipungkiri, hidup dengan memegang kuat perintah agama terlihat begitu berat—apalagi pada zaman sekarang. Sampai-sampai Rasulullah Saw. pun mengumpamakan kaum yang teguh pada agamanya bagaikan “orang yang menggenggam bara api”. Tampak sakit memang, tapi iman berkata lain.

Bagi kaum beriman, hidup menjadi jalan yang harus ditempuh untuk sampai kepada kehidupan kekal di akhirat. Tentu saja, kehidupan kekal yang bahagia. Seterjal bagaimanapun jalan itu, ia tetap harus dilalui. Harta benda harus berani diinfakkan, tenaga harus tega dikuras, dan jiwa harus siap dikurbankan bila memang itu yang diperintahkan.

Pun demikian, Allah melarang kita melupakan nasib kebahagiaan kita selama hidup di dunia. Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagian dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Sepintas dengan gemar bersedekah, berinfak dan berkurban pada hari raya Idul Adha, tampak nyata berkurangnya harta. Tapi iman menunjukkan bahwa syukur menjanjikan ganti yang berlipat-lipat dan bahwa kelak semua yang kita kurbankan akan berbiak karena sudah tersiram keberkahan – sesuatu yang tidak mudah dipahami penglihatan mata kepala. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More