Home Khasanah Budaya Ngopi: Kegemaran Para Sufi

Budaya Ngopi: Kegemaran Para Sufi

by Fatur Rohman
0 comment

Sebagai seorang musafir, kegemaran ngopi adalah suatu yang lumrah. Tiap kali melepas lelah di perjalanan, ujung-ujungnya menepi lantas mampir kewarung kopi. Konon kebiasaan minum kopi adalah kegemaran para sufi. Alasannya, dalam tiap biji kopi, mengandung dzat yang menjadikan tubuh “tambah” bersemangat dan inilah modal untuk terjaga hingga pagi sambil berzdikir.

Perjalananku kali ini sowan kepada Gus Wulyo, seorang pengasuh pondok pesantren” Sri Gading” di kawasan bukit Surowiti (areal petilasan Sunan Kalijaga) Gresik. Memang, kedatanganku ini cuma mengikuti kretheg ati (kata hati) tanpa pemberitahuan kepada beliau terlebih dahulu.

Ketika memasuki areal pondok pesantrennya, ternyata beliau tidak ada ditempat. Seorang santri mempersilakan duduk di ruang tamu ternyata saya tidak sendiri, ada empat orang yang sedang menunggu kehadiran beliau. Singkat kata waktu menunggu tak terasa sudah hampir tiga jam.

Saya tidak yakin, dan memang tidak terlalu berharap lagi, Gus Wulyo akan datang dan menemui kami. Disaat hati mulai gundah, ujug-ujug Gus Wulyo ternyata benar-benar menemuiku. ” Ngapunten nggih kalau nunggu saya agak lama. Iya, tadi itu di telpun santri saya kalo ada tamu,”kata Gus Wulyo dengan nada lirih.

Seluruh rambutnya sudah berwarna perak. Berpakaian dan bersarung putih, pun kopiah putih dan surban sewarna yang diselempangkan ke leher, Gus Wulyo gagah dan sangat berwibawa.

Meski sibuk, Gus Wulyo masih berkenan duduk di antara kami. Satu pertanyaan Gus Wulyo kepada saya, ”Lha mana kopinya? Sudah ngopi apa belum?”

Belum lagi saya menjawab, Gus Wulyo sudah menyahut, ”Sufi iku kudu ngopi!” Sejurus kemudian, Beliau memanggil seorang santri dan meminta dibikinkan kopi. Secangkir kecil kopi menemani kami bercengkerama beberapa saat.

Meski sudah tidak merokok, Gus Wulyo membiarkan saya menghisap batang tembakau. Ucapan Beliau bahwa Sufi itu harus ngopi segera mengingatkan saya pada sosok Khalid, penggembala kambing di Kaffa, Abyssinia, abad 9 M.

Kini, Abbyssinia bernama Ethiopia. Waktu itu, kambing yang digembalakan Khalid sontak berlari-lari kencang seperti kelebihan tenaga setelah ia mengunyah beberapa lembar daun dan serumpun buah kemerahan yang mirip buah cherry. Di kemudian hari, Khalid menjadi tahu bahwa ternyata itu daun dan biji kopi. Biji-biji kopi ditumbuk dan direbus dengan air, jadilah minuman. Menghangatkan tubuh, menambah energi, pun membuat mata kuat melek.

Berkat jasa seekor kambing gembalaan, kaum Sufi pun menemukan kopi yang menemani mereka untuk tetap terjaga sepanjang malam dalam zikir dan pikir. Qiyamu ‘l-Lail, atau terjaga dan berjaga di malam hari dengan mendirikan salat, baca Al Qur’an, berzikir dan merenung sangat terbantu oleh Qahwa, sebutan lain untuk kopi. Dikembangkan oleh Sufi Ali bin Omar dari Yaman menjadi obat aneka penyakit, kopi terus menyebar ke seluruh dunia dengan banyak kisah.

Penyebaran kopi menorehkan riwayat panjang, mulai dari penanaman massal, penyebaran agama Islam, penjajahan, perbudakan, penyelundupan, hingga sejumlah eksekusi mati. Kini, mutiara-mutiara hitam itu tersedia dalam ragam pilihan di kedai-kedai kopi. Arabica dan Robusta disajikan dalam deret menu, dari kelas berat sampai kelas bulu. Dari one shot espresso sampai kopi saset. Dari kopi dingin di gelas kurus tinggi sampai kopi panas di cangkir mungil.

Bisa berbeda harga hanya gara-gara berbeda nama. Kopi hitam yang di warung cuma Rp 3.000 bisa dibandrol Rp 25 ribu di coffee shop lantaran dilabeli dengan sebutan black coffee. Saya penggila kopi, tapi tidak terlalu gila. Sehari maksimal cuma enam atau tujuh cangkir kopi. Tidak berpengaruh juga jika saya menyesap secangkir kopi sebelum tidur. Hanya saja, sebal juga jika tiap nongkrong atau begadang, selalu kopi yang disajikan untuk saya.

Selanjutnya saya lanjutkan Perjalanan menuju ke Lamongan untuk berziarah ke makam Sunan Drajat, saya turun dan membeli sekaleng kopi dingin di toko waralaba.  Satu jam di makam Sunan Drajat, lalu saya langsung “balik kanan”” menuju Gresik lagi menuju makam Sunan Giri, sambil istirahat setelah turun dari mendaki anak-anak tangga ke  Giri Kedaton (makam Sunan Giri), lagi-lagi kopi yang Allah kirimkan kepada saya.

Ternyata, sungguh benar penuturan Gus  Wulyo: “Sufi iku kudu ngopi.”Kopi bukan lagi minuman para sufi saja, tapi minuman bagi siapa pun, terutama yang memang berhasrat memfungsikan lidah bagian belakang untuk menyesap rasa pahit. Ah, andai boleh beribadah ditemani secangkir kopi di samping sajadah, saya mungkin akan lebih sering i’tikaf di masjid. (fatur)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More