Home Khasanah Fenomena Tren Musik Religi “Sabyan”

Fenomena Tren Musik Religi “Sabyan”

by Fatur Rohman
0 comment

Siapa yang tak kenal Sabyan Gambus?  grup musik gambus ini tengah populer di masyarakat. Lagu-lagu seperti “Ya Habibal Qolbi”, “Ya Jamalu”, “Rohman Ya Rohman”, dan yang sekarang ini lagunya sangat disukai , ” Aisyah Istri Rasullah”  sering diputar di chanel youtube oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga kaum tua. 

Personel Sabyan Gambus terdiri dari Ahmad Fairuz (keyboard), Khoirunnisa (vokalis), Sofwan Yusuf (perkusi), Kamal (darbuka), Tubagus Syaifulloh (biola) dan Anisa Rahman (backing vokalis). Dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, mereka mengungkapkan bahwa sebelum populer seperti sekarang, mereka sering tampil di pesta pernikahan.

Mereka mengusung musik gambus dan salawat sebagai jenis musik yang mereka tampilkan di muka publik. Maka, Sabyan Gambus dan musik ‘islami’ mereka dapat dilihat sebagai sebuah fenomena kebudayaan tersendiri.

Banyak yang bertanya? mengapa Sabyan Gambus mampu mencuri perhatian dan menjadi idola masyarakat dalam selera musik mereka. Dari literatur berbagai sumber (bbs) penulis menjabarkan.

Pertama, mereka mampu mendayung di atas arus islamisasi yang terus bergerak. Dengan genre gambus yang identik dengan musik arab dan mengusung lagu-lagu ‘islami’, musik mereka menjadi semacam oase yang menghapus dahaga kaum menengah muslim akan hadirnya apa yang disebut sebagai ‘musik islami’. Mereka berhasil dengan sangat gemilang memadukan antara unsur ‘islami’ dan ‘modern’ dalam cara bermusik mereka. Persis seperti yang didambakan kaum menengah muslim.

Dengan mengusung kemasan moderen dan aransemen lagu yang memikat, Sabyan Gambus menunjukkan bahwa mereka siap untuk masuk gelanggang musik nasional dengan ciri khas dan warna tersendiri. Grup musik ini seakan menggambarkan perpaduan antara simbol-simbol islam dan ikon modern dalam balutan nada dan irama.

Sang vokalis yang berjilbab, berparas cantik, bersuara merdu, dan berpenampilan trendy adalah simbol akomodotif yang memadukan unsur ‘islam’ dan modernitas. Perpaduan inilah yang telah lama dinanti oleh para kaum menengah muslim.

Kedua, Sabyan Gambus berhasil menggunakan media sosial dengan baik untuk mempromosikan karya-karya mereka. Video-video mereka di Youtube ditonton jutaan orang. Hal ini berhasil menggeser pakem lama dalam dunia musik yang harus melewati banyak tahapan untuk bisa dikenal masyarakat.

Televisi dan radio sebagai medium untuk menampilkan grup-grup musik sudah mulai tergantikan. Media sosial memangkas itu semua, menjadi idola baru. Menyasar generasi milineal yang sangat akrab dengan gawai berisikan aplikasi musik seperti YouTube, Spotify, dan Joox. Sabyan Gambus sebagai sebuah fenomena kebudayaan berhasil berjalan di atas dua tapak; arus islamisasi dan gelombang media sosial.

Sabyan Gambus setidaknya dapat dikategorikan sebagai musik ‘islami’. Ini karena, ia mengusung salawat dan lagu berbahasa Arab, walaupun tidak semua lagu Arab itu islami. Para personil perempuan memakai jilbab sebagai penegasan akan identitas muslim mereka. Tentu Islam tidak sesederhana definisi ini, namun dari tampilan dan isi lagu mereka, masyarakat mengerti bahwa itu adalah musik islami.

Seni musik dipercayai bersifat universal dan dapat dinikmati siapa pun. Namun faktanya, beberapa jenis musik memang hanya dapat dinikmati oleh beberapa kelompok masyarakat saja. Penggemar dangdut biasanya berbeda dengan penggemar jazz, sehingga musik mampu menjadi simbol identitas seseorang.

Maka itu, persoalan mendengarkan musik tidak hanya sekedar menikmati nada dan irama. Namun, juga berkaitan dengan ‘dia’ dan ‘mereka’. Musik dapat dipandang sebagai penegasan identitas.

Dalam konteks ini, bagi beberapa orang terutama kaum menengah muslim, mendengarkan lagu-lagu Sabyan Gambus tidak hanya bahwa mereka menikmati nada lagu tersebut. Tapi, mereka menegaskan identitas ‘keislaman’ dan ‘ke-muslim-an’ mereka dengan cara mendengarkan lagu-lagu tersebut.

Seakan-akan dengan mendengarkan religi (Sabyan gambus, misalnya) , identitas ‘islam’ mereka dianggap menguat. Apakah mendengarkan musik sesuai dengan ajaran islam atau tidak, itu adalah persoalan lain. Apakah lirik-lirik lagu berbahasa arab itu benar-benar merepresentasikan nilai-nilai Islam, bisa jadi bukan menjadi perhatian utama mereka. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More