Home Khasanah Mengupas Anugerah Cinta Ala Rumi

Mengupas Anugerah Cinta Ala Rumi

by Fatur Rohman
0 comment

 

Jallaludin Rumi dan cinta, dua hal yang selalu melekat. Bahkan, dalam ranah mistisme, Rumi dikenal sebagai pendiri tariqat mazhab cinta. Di Indonesia, ada sosok yang jadi “gila” karena karya-karya Rumi. Ya, termasuk Ahmad Dhani, seorang musisi beken tanah air yang juga “menggilai ” sosok Rumi dengan karya-karyanya.

Rumi berpandangan, tugas manusia di dunia adalah belajar terus menurus menjadi seorang pecinta yang bermanfaat bagi semesta sampai kelak ia berjumpa kembali dengan Sang Kekasih sejati. Dari sinilah konsep cinta Rumi berasal hingga melahirkan ribuan puisi-puisi cinta yang mengagumkan. Lalu bagaimana sebenarnya, Rumi memaknai kata cinta itu sendiri?

Secara eksplisit Rumi tidak pernah mendifinisikan cinta yang ia maksudkan, tetapi dengan menelusuri karya puisi-puisinya, setidaknya kita akan menemukan  lima ciri khas cinta menurut Rumi. 

Pertama, Cinta adalah Hadiah dari Tuhan

Dalam banyak puisinya, Rumi menjelaskan bahwa semesta ini tercipta karena cinta. Dan Tuhan memasukkan rasa cinta itu ke setiap hati manusia. Mereka yang selalu merawat fitrah cinta yang Tuhan anugrahkan ini, akan berlapang dada dalam menyikapi berbagai persoalan hidup.

Tidak hanya pada manusia dan makhluk bergerak, bahkan menurut Rumi seluruh bagian alam ini diciptakan berpasang-pasangan dan mereka saling mecinta.

Hikmat Tuhan dalam qada dan qadarnya

Ia hadirkan kita sebagai para pecinta

Seluruh bagian alam tercipta berpasangan

Dan pasangan itu saling mencinta

Seperti langit yang berkata pada bumi

Engkau dan aku ibarat magnet dan besi

Jika langit adalah lelaki maka bumi sebagai perempuan

Setiap butir biji yang jatuh, bumi akan memeluk dan merawatnya

(Rumi, Matsnawi jilid 3, bait 4400-4404)

Kedua, Cinta Harus Terus Dirawat

Meskipun cinta merupakan fitrah yang dihadiahkan Tuhan kepada kita, tetapi sebagaimana fitrah-fitrah lainnya, ia dapat memudar bahkan hilang sama sekali. Menurut Rumi, cinta sejati itu perlu terus dirawat dan diusahakan hingga membekas dalam diri.

Belajarlah cinta dan kebijaksanaan

Seperti lukisan dalam batu, ia akan membekas

(Rumi, Matsnawi, jilid 5, bait 3194)

Ketiga, Cinta Sejati tidak Mengharap Balasan

Perjalanan seorang pecinta harus sampai kepada titik tidak mengharapkan balasan apapun. Karena itulah, dalam tasawuf kita sering mendengar, seorang sufi tidak lagi menginginkan surga. Apa yang ia lakukan, atas dasar kecintaan kepada Tuhan.

Hanya jasad dan ruh para pecinta yang berjalan tanpa pamrih

(Rumi, Matsnawi, jilid 1, bait 2800)

Dalam konteks sosial, apakah konsep cinta Rumi ini masih relevan dengan kehidupan manusia yang semakin ego sentris? Meskipun sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. 

Keempat, Cinta Sejati itu Menggerakkan

Sekuat itu juga Rumi menggambarkan cinta dalam banyak puisinya. Cinta mampu mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Karena cinta, pahit menjadi manis

Karena cinta, tembaga menjadi emas

Karena cinta, keruh berganti jernih

Karena cinta, derita berganti bahagia

Sebab cinta mampu hidupkan yang tiada

Sebab cinta, raja rela menjadi hamba sahaya

(Rumi, Matsnawi, jilid 2, bait 1529-1531)

Namun, Rumi juga tidak selalu menggunakan bahasa hiperbolis untuk membuktikan bahwa cinta itu dapat menggerakkan. Sekali waktu, Rumi mengajak kita untuk merenungi kejadian sederhana di sekitar kita. Sebagaimana biji-bijian yang tertanam dalam tanah yang gelap, kemudian tumbuh menjadi pohon yang rindang dan berbuah. Begitu juga, dari tubuh manusia yang ringkih dapat membuahkan kesempurnaan dan akhlak mulia. Dengan cinta manusia dapat mengubah sisi tergelap dalam dirinya menjadi insan mulia.

Kami hadiahkan pada tanah kesuburan dan penghijauan

Agar kau renungkan bagaimana cinta mampu mengubah

(Masnawi, jilid 5, bait 2743)

Dalam puisi lainnya, Rumi memberikan ilustrasi menarik dengan meminjam huruf hijaiyah. Rumi seolah ingin menunjukkan bahwa jika kita berdakwah dengan cinta, bukan tidak mungkin dapat mengubah karakter manusia menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika ajakan kita kering dari nilai-nilai cinta, bisa jadi mereka yang berpotensi menjadi baik akan berbalik. Alif dalam ibarat yang dibawakan oleh Rumi sebagai jalan lurus.

Sebab cinta bersatulah semesta, tanpa cinta dunia menjadi gulita

Sebab cinta dal yang lengkung menjadi alif, tanpa cinta alif menjadi dal

(Rumi, Divan-e Kabir, puisi kedua, bait ke 14)

Kelima, Cinta Sejati Membahagiakan

Sebagaimana jalan tasawuf Rumi yang berpijak pada konsep kebahagiaan. Maka bagi Rumi, cinta haruslah memberikan jendela pandang yang membahagiakan. Ini tidak sama artinya dengan kita mengingkari peristiwa-peristiwa menyedihkan dan menyakitkan yang kita alami. Tentu semuanya merupakan bagian hidup yang tidak dapat dipungkiri. Sebagaimana pengakuan Rumi sendiri lewat sebaris puisinya.

Dunia bermula dari cinta dan akan berakhir dengan bencana

Tapi para pecinta, bersyukur saat kesulitan. Berdamai saat guncangan

(Rumi, Divan-e Kabir, puisi kedua, baris ke 20)

Dari sinilah,  mengapa puisi-puisi Rumi selalu terasa segar, meski telah ratusan tahun berlalu. Apalagi mencermati kondisi sekarang, ketika dunia terus menerus dihujani kabar duka dan memilukan, bait-bait Rumi seperti taman bunga yang memberikan semerbak harapan untuk terus optimis dan melihat segalanya lebih indah melalui anugerah cinta. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More