Home Khasanah Sebuah Dilema : Larangan Tidur Di Masjid

Sebuah Dilema : Larangan Tidur Di Masjid

by Fatur Rohman
0 comment

Beberapa waktu lalu ” Matahati.News” dengan rubrik ” Khasanah-nya” telah membahas fenomena masjid-masjid yang di gembok pada jam-jam diluar shalat berjamaah. Nah, kali ini kita bahas fenomena banyak masjid disekitar kita menempeli tulisan dalam bentuk larangan, “Dilarang Tidur di dalam Masjid”. Mungkin maksudnya sebagai anjuran, mengharapkan para jamaah ataupun para pengunjung untuk tidak tidur di dalam masjid.

Tetapi kata “dilarang” disini juga terkesan tidak bersahabat, tidak ramah. Bagaimana dengan orang-orang yang sedang nunut berteduh dari hujan dan panas, orang-orang yang sedang mengadu nasib tetapi tidak punya tempat menginap sementara waktu, orang-orang yang dalam perjalanan? Bukankah harapan tempat (gratis) ada pada bangunan masjid? Harapan tempat para tukang becak atau para orang-orang yang bepergian tetapi kehabisan uang, harapan bagi orang-orang untuk sekedar berdiang dari hujan, berteduh dari terik matahari.

Menjaga kesucian masjid bukan berarti melarang orang tiduran di dalam masjid. Memaknai rahmatan lil’alamin sebuah masjid, kiranya memeluk bagi siapa saja dan kapan saja, tidak lantas mengsekuritikan masjid, menguncinya dan melarang ada aktivitas di luar ibadah yang berselisih batas dengan fungsi sosial keberadaan dari sebuah bangunan masjid.

Selain itu perkembangan teknologi komunikasi pun membuat pengurus masjid harus menyikapinya. Muncullah satu pengumuman lain seperti “ Bila Masuk Masjid, HP Mohon Dimatikan”. Harapannya adalah untuk meminimalisir gangguan. Jika HP notabene alat komunikasi itu berbunyi ketika para jamaah sedang salat atau mengaji, tidak hanya pemilik yang tak konsentrasi namun juga jamaah lain. Para jamaah pun tahu diri, mematikan HP atau sekadar meredam suara.

Terus, apa kaitan suara HP dengan diri saat sedang salat? Bukankah suara sekalipun itu lirih, tetap terdengar. Mata tetap terbuka, bahkan pikiran bisa melayang ke mana-mana saat salat meski dalam senyap sekali pun? Untuk mendamba kekhusukan, suara alat komunikasi seolah menjadi penghalang. Padahal, bukankan posisi diri saat shalat itu juga sedang berusaha menafikan segala hal yang dapat mengganggu?

Seharusnya,  masjid menjadi ramah untuk siapa saja, masjid tidak tertutup karena alasan demi menjaga kesucian. Segi fisik bangunan masjid tentunya tidak semata-mata yang dikedepankan, namun juga dibarengi segi metafisik dan peran sosial. Utamanya bagi yang ingin melepas lelah terus di barengi ibadah fardu. Terlebih bagi para musafir yang ingin beristirahat sejenak di masjid. ( fatur)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More