Home Khasanah Kisah Hikmah : Tawadhu Terhadap Guru Ngaji Kampung

Kisah Hikmah : Tawadhu Terhadap Guru Ngaji Kampung

by Fatur Rohman
0 comment

 

Suatu ketika, sebut saja Brodin (35) ustadz  “beken” asal Bangkalan, Madura sedang mengalami sakit di tulang belakangnya, orang bilang nyeri punggung. Awalnya hanya dianggap hal sepele, namun setelah beberapa waktu sakitnya tak jua kunjung hilang. Akhirnya sang ustadz tersebut dirujuk ke rumah sakit di Surabaya.

Di rumah sakit bukannya sembuh. Sakitnya kian parah, dan para dokter pun seolah dihinggapi kebingungan, sebab sakit nyeri di punggung yang didera sang ustadz tidaklah seperti sakit pada umumnya.

Di tengah kebingungan tersebut, sang ustadz kedatangan tamu seorang kiai dari Sampang. Karena yang datang adalah “orang istimewa” , maka sang ustadz meminta izin agar sang kiai berkenan memberi doa yang kemudian ditiupkan ke dalam sebotol air dengan harapan penyakitnya sembuh.

Namun sang kiai menolak, beliau hanya memberi saran agar meminta doa dan air kepada seorang guru ngaji yang tinggal sekampung dengan ustadz tersebut. Awalnya dia agak ragu, namun karena tak ada jalan lain akhirnya ia berkenan meminta air kepada guru ngaji tersebut.

Hanya selang beberapa waktu sakit nyeri punggung yang didera sang ustadz tersebut telah hilang. Beliau benar-benar sembuh. Usut punya usut, guru ngaji tersebut ternyata ialah guru pertama yang mengenalkan “alif-ba-tha” (ngaji tingkat dasar) kepada sang ustadz.

Nah, dari kisah ini dapatlah kita mengambil kesimpulan, agar kita jangan sekali-kali melupakan orang yang pertama kali mengajarkan ngaji tingkat alif- ba-tha.

Di antara kita tentu pernah mendengar ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib:

“Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.”

Sebab, sikap hormat dan rendah hati pada guru memiliki dampak positif tidak hanya dalam menjaga harmonisasi hubungan keduanya tetapi juga kesuksesan belajar sang murid.

Sebuah gambaran dari bagian kecil tentang bagaimana sikap seorang murid kepada gurunya. Namun setidaknya, dari  kisah tersebut kita dapat mengambil kesimpulan yang sangat sederhana bahwa kesuksesan dan kebahagian seseorang tak lepas dari bagaimana ia bersikap kepada gurunya, terlebih kepada orang yang pertama kali mengenalkannya tentang kehidupan , berkasih sayang serta aklak yang baik ( fatur)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More