Home Khasanah Menunda Gaji Pegawai Adalah Zholim !

Menunda Gaji Pegawai Adalah Zholim !

by Fatur Rohman
0 comment 136 views

 

Sebaik-baik seorang majikan akan membayarkan upah pada pegawainya sesuai waktu yang ditentukan (tepat waktu). Terlebih, upah itu sangat berarti dan diharapkan untuk mememenuhi kebutuhan si pekerja. Dan sudah menjadi kewajiban sang majikan memberikan gaji setiap bulannya. Jika diakhirkan tanpa ada udzur, maka ia bertindak zholim pada pegawainya.

Sudah sering kita mendengar atau membaca sebuah ungkapan yang berbunyi  “Bayarlah upah sebelum keringatnya kering”. Kalimat pendek itu sungguh menyimpan makna yang dalam. Bila dihubungkan dengan kata yang tersurat, maka lebih pas untuk digunakan sebagai acuan ketika seseorang sudah menggunakan jasa orang lain, seperti jenis tugas atau pun pekerjaannya, tapi yang harus diutamakan adalah pembayaran upah atau gajinya harus segera dibayarkan pada saat sesuai dengan yang diperjanjikan atau yang dipersyaratkan.

Namun bila kita mau mengkaji lebih jauh lagi perihal makna ungkapan tersebut, maka tak hanya dalam kaitan pemberian tugas atau mempekerjakan orang, tetapi bisa diperluas ke masalah lainnya. Sebagai contoh saja, persoalan keberlangsungan hidupnya ke depan, akibat upah tidak kunjung dibayar. Khususnya seorang laki-laki yang bertanggung jawab pada anak dan istrinya, seringkali harus kelaparan, karena mengharapkan upah yang diharapkan itu tak kunjung dibayarkan. Anak dan istri pun terlunta-lunta, pada gilirannya bisa jadi jatuh dalam kemiskinan yang efeknya dekat kepada kekufuran.

Sekali lagi, membayar upah adalah sesuatu yang harus disegerakan. Seorang majikan tidak boleh menunda atau melambat-lambatkan penunaian gaji atau upah pegawainya, bila tidak ada suatu hambatan segeralah ditunaikan dan bila terjadi masalah segera dimusyawarahkan.

Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR Ibnu Majah). Hadis sahih ini berupa perintah yang wajib ditunaikan para majikan. Haram hukumnya menangguhkan gaji pekerja tanpa alasan yang jelas.

Pekerja yang dalam akad digaji bulanan, maka diwaktu yang ditentukan harus segera dibayarkan gajinya. Demikian juga pekerja harian, setelah selesai ia bekerja sehari itu, gajinya harus dibayarkan. Rasulullah SAW mengibaratkan jarak waktu pemberian upah dan selesainya pekerjaan dengan keringat. Jangan sampai keringatnya mengering, artinya sesegera mungkin setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Tidak menunggu esok, apalagi sampai berganti bulan.

Imam al-Munawi mengatakan, seorang majikan yang menunda pemberian gaji, berarti ia sudah melakukan kezaliman kepada pekerjanya. “Diharamkan menunda pemberian gaji, padahal ia mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering,” demikian disebutkan al Munawi dalam Faidhul Qodir . Imam al-Munawi berdalil dengan hadis Rasulullah SAW, “Menunda penunaian kewajiban termasuk kezaliman” (HR Bukhari Muslim).

Majikan yang suka menunda-nunda gaji para karyawannya sebenarnya mendapatkan ancaman serius dalam hukum Islam. Menurut al Munawi, majikan tersebut halal kehormatannya dan layak mendapatkan hukuman. Hal ini berdalil dengan hadis Rasulullah SAW, “Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman.” (HR Abu Daud, Nasa-i, Ibnu Majah).

Halal kehormatannya maksudnya ia termasuk dalam salah satu daftar orang yang boleh dibukakan aibnya kepada orang lain. Menunda penunaian gaji adalah salah satu bentuk kezaliman yang boleh dibeberkan tanpa perlu khawatir hal itu termasuk gibah (menggunjing orang lain).

Tidak hanya itu, jika majikan yang menunda pembayaran gaji karyawannya sudah pada tahap meresahkan, pihak berwenang bisa saja memberikan hukuman. Menurut al Munawi, ia bisa dihukum karena sikap menahan gaji adalah tindak kejahatan. Wallahu ‘a lam bishawab…. (fatur/bbs)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More