Home Khasanah Secercah Hikmah : Dibalik Musibah Banjir Di Jakarta

Secercah Hikmah : Dibalik Musibah Banjir Di Jakarta

by Fatur Rohman
0 comment 156 views

 

Musibah banjir terjadi lagi di Jakarta dan daerah-daerah penyangga ibukota. Sebagian orang menilai banjir itu sebagai musibah karena kelalaiannya dalam mengurus lingkungan dan alam.Namun ada juga, orang yang memaknai bencana banjir itu sebagai azab karena terlalu banyak dosa-dosa yang diperbuat manusia. Mana yang benar?

Sementara itu, bagi orang bijak lebih meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Musibah dunia di antaranya adalah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”

Adapun banjir yang sekarang ini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia,terlebih di Jakarta, merupakan fenomena alam ketika musim hujan tiba. Namun, sebagai makhluk yang berpikir kita harus berusaha mengatasinya dengan segala daya upaya.

Dalam konteks agama, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang disampaikan para nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.

Allah SWT berfirman: “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Q.S. Hud: 101).

Islam pun mengajarkan, hidup tak boleh dihiasi dengan laku eksploitatif dan merusak alam. Termasuk ketika kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Selokan, seharusnya tak dipenuhi sampah yang menggunung, pembangunan gedung atau perumahan mesti menggunakan analisis dampak lingkungan (amdal), dan kawasan yang rawan bencana mestinya dilindungi oleh negara.

Hukum sebab akibat ternyata tidak ditanamkan dalam jiwa umat manusia. Ada saluran mampet dengan sampah menumpuk, tentunya akan berakibat pada meluapnya aliran pada saluran air itu.

Namun, hal ini tak membuat jera umat manusia membuang sampah ke sungai, sehingga yang terjadi adalah terulangnya banjir di sejumlah daerah.

Ketika manusia merusak keteraturan tersebut, efek samping akan berubah menjadi musibah. Dan, sudah dapat dipastikan apabila musibah tersebut berasal dari ulah manusia yang eksploitatif terhadap alam sekitar, tepat rasanya kalau disebut sebagai azab.

Setiap bencana adalah “buah” perilaku manusia sendiri

Salah satu dari sekian banyak penyebab bencana adalah dilanggarnya sunnatullah. Umumnya orang-orang sering menyebutnya dengan hukum alam.

Tangan-tangan manusia, lepas dari agama dan keimanan mereka, seringkali ikut andil dalam kerusakan di alam ini. Akibatnya, mereka tertimpa bencana dari apa yang perbuat sendiri. Kasusnya bukan melanggar hukum syariat Allah, tetapi melanggar sunnatullah.

 Allah SWT berfirman : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari  perbuatan mereka, agar mereka kembali. (QS. Ar-Ruum : 41)

Hukum alam menjelaskan, air itu selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Nah, kalau tempat-tempat yang rendah seperti rawa, sungai, danau, serta bantarannya disulap jadi rumah hunian, lalu pas musim hujan jadi banjir, sebenarnya ini bukan urusan beriman atau tidak beriman, tetapi karena manusia sudah bertindak semena-mena terhadap alam.

Seharusnya jangan bikin rumah di bantaran sungai, kalau tidak mau terkena sapuan air banjir di musim penghujan. Seharusnya rawa, sawah dan tempat-tempat penampungan air jangan dihilangkan, apalagi dijadikan perumahan. Kalau air datang di musim penghujan, tentu akan mencari tempat yang lebih rendah. Dan terjadilah banjir. Sederhana saja sebabnya, yaitu ada sunnatullah yang dilanggar.

Jadi kalau kaitannya dengan banjir di Jakarta dan beberapa wilayah lainnya, sebenarnya semua pihak sudah tahu penyebabnya, bahkan bisa diperhitungkan kapan akan terjadinya. Malah sudah jadi langganan tiap periode tertentu. Sampai ada yang menyebut dengan istilah ‘banjir langganan’.

Dan anehnya, tidak sedikit dari para korban banjir itu yang tetap betah menghuni bantaran kali dan tempat-tempat rawan banjir lainnya. Seolah musibah banjir itu sudah dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja.

Bahwa ada banyak sunnatullah yang terlanjur dilanggar, dianggap sudah wajar pula. Dan selama pelanggaran itu terjadi, banjirnya tentu saja masih tetap akan setia mendatangi pada setiap musim penghujan. 

Mengambil Hikmah rentetan fenomena demi fenomena yang terjadi, pastinya dapat direnungi sebagai hasil perbuatan daripada tangan manusia.

Sesungguhnya, musibah yang menimpa sebagai jalan untuk kembali kepada Allah SWT dan jangan mengabaikan tanda-tanda kehadiran Allah dalam musibah yang menjadikan hati gersang dan kacau, dan mengundang jauhnya rahmat Allah. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More