Home Khasanah Nahdlatul Ulama Konsisten Menangkal Radikalisme

Nahdlatul Ulama Konsisten Menangkal Radikalisme

by Fatur Rohman
0 comment 204 views

 

Rakyat Indonesia tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah gerakan radikalisme. Kita semua tahu bahwa gerakan radikalisme berkaitan erat dengan kelompok militan Islam. Gerakan radikal telah banyak melakukan tindak kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Lebih memilukan lagi, agama acapkali dijadikan justifikasi kenapa tindak kekerasan itu dilakukan.

Radikalisme itu sendiri adalah aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara ekstrem (kekerasan) dalam aliran politik. Dari hal ini bisa diketahui bahwa sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati – matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya.

Sejatinya, radikalisme sudah ada sejak abad 16 – 19 M. Dua agama yang paling utama mengakarinya ialah antara Islam dan Kristen yang saling berebut kejayaan di masa itu.

Namun, fenomena akan adanya radikalisme agama tak hanya menjalar pada agama Islam atau Kristen saja. Sebagaimana yang ditulis oleh Karen Armstrong dalam bukunya the battle for God , radikalisme juga ada dalam Hindu dan Yahudi. Bahkan fakta terbaru memperlihatkan adanya radikalisme dalam pengikut Budha.

Hal ini tentu memilukan, tapi memang sepatutnya diakui bahwa agama yang paling berhasil dirusak oleh radikalisme adalah Islam. Sebab bukan hal yang mustahil bila saat ini banyak orang yang menyangka bahwa radikalisme adalah bagian dari ajaran Islam. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.

Perspektif itu muncul jelas bukan tanpa sebab. ibarat sebuah iklan yang mengandung unsur propaganda bermunculan di berbagai media, maka lambat laun akan mempengaruhi pola pikir masyarakat juga. Itulah yang terjadi pada Islam. Dimana gerakan kelompok – kelompok radikal Islam selalu diwartakan berbagai media di dunia tanpa celah. Bahkan tak jarang akan menjadi headline.

Radikalisme tentu bukanlah salah satu ciri orang beragama, agama apapun tentu mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, bukan perang ataupun kebencian.  Jihad yang sesungguhnya bukanlah jihad dengan mengangkat senjata, tapi kesungguhan dalam beribadah dan terus menebarkan kebaikan bagi seluruh umat manusia

Padahal dengan jelas, Islam datang adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah Swt.: “Dan kami tidaklah mengutus engkau Muhammad melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya: 107)

Jadi, rahmat dan kasih sayang Islam tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja. Lebih jauh dari itu, Islam datang diproyeksikan untuk melindungi orang-orang dari rasa lapar dan rasa takut.

Dewasa ini, Indonesia dihantui gerakan yang mengatasnamakan “jihad” dari beberapa sekte radikal. Lebih memilukan, ideologi jihad kini mulai merambah ke kalangan kampus, terutama kampus negeri. Dengan pemahaman keagamaan yang dangkal para mahasiswa dengan mudah disusupi paham radikal tersebut. Oleh karena itu, jangan heran ketika menjumpai gerakan kemahasiwaan yang dengan lantang berteriak bahwa negara Indonesia adalah negara kafir.

Atau suara lain yang mengatakan bahwa Pancasila perlu diganti dengan sistem khilafah dan lain sebagainya. Itu karena ideologi radikal sudah menyusupi aktivis dan aktivitas kemahasiswaan kampus.

Di Indonesia, pengaruh radikalisme dan ektrimisme itu bisa dirasakan dan dilihat dengan mudah. Iklim kebebasan yang dibuka sejak reformasi pada 1998, memberi ruang luas berkembangnya radikalisme. Memang jumlah pemuda-pemuda Indonesia yang terpengaruh faham radikal tidaklah sebanding dengan jumlah mainstream umat Islam yang moderat.

Nahdlatul Ulama tetap konsisten turut menjaga keutuhan NKRI dengan serius membentengi masuknya faham-faham radikal tersebut. Terorisme dan radikalisme, tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah dan aparat keamanan saja.

Sesungguhnya, gerakan radikalisme di Indonesia dapat merugikan ketatanegaraan NKRI dan juga tidak sesuai dengan Pancasila. Radikalisme dapat menjadikan negera dipandang rendah oleh bangsa lain sehingga ekonomi negara memburuk, sehingga Pemerintahan Indonesia harus berupaya memulihkan hal tersebut yang tentu merugikan ketatanegaraan.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat konsen dalam memberantas gerakan radikalisme di Indonesia. Bagi NU, gerakan radikalisme sangat mengganggu terhadap kedamaian yang ada di Indonesia.

Sebagai Bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia pun menggenggam legitimasi yang amat kuat untuk memulai inisiatif perdamaian. Indonesia juga memiliki wawasan Islam Nusantara, yaitu wawasan keislaman yang mengedepankan harmoni sosial pada masyarakat Nusantara dan ini terjalin sejak jaman kerajaan dahulu.

Selayaknya kita bangga, Islam Nusantara telah terbukti ketangguhannya dalam membimbing masyarakat Muslim Indonesia melalui perjalanan sejarahnya hingga mewujud dalam tatanan sosial-politik yang moderen dan demokratis sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Wawasan Islam Nusantara menawarkan inspirasi bagi seluruh dunia Islam untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran dan model-model interaksi yang damai dengan realitas kekinian dan pada gilirannya berkontribusi secara lebih konstruktif bagi keseluruhan peradaban umat manusia.

Dengan paradigma, ahlusunah wal jama’ah (Aswaja) di sini mencerminkan sikap NU yang selalu dikalkulasikan atas dasar pertimbangan hukum yang bermuara pada aspek ke maslahatan umat. Inilah nilai-nilai “Aswaja” yang melekat di tubuh NU yang menjadi penilaian dan pencitraan Islam rahmatan lil ‘alamin di mata dunia Internasional.

(Fatur Rohman, S.Sos : penulis adalah pengamat sosial dan kemasyarakatan)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More