Home Khasanah Mengenang Gus Sholah

Mengenang Gus Sholah

by Fatur Rohman
0 comment 121 views

 

Rakyat Indonesia telah kehilangan putra terbaiknya, KH Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah, meninggal dunia pada Minggu (2/2/2020). Adik Presiden keempat RI, KH Abdurahman Wahid itu menghembuskan nafas terakhir pada pukul 20.55 WIB. Gus Sholah berpulang setelah kondisi kesehatannya semakin menurun usai menjalani bedah jantung. Mendengar berita wafatnya, Gus Sholah, semua menangis mengingat sepak terjang beliau yang begitu getolnya dalam meneruskan “Ahlusunah Wal Jamaah”.

Kini yang ada adalah kenangan!…

Para nahdliyin, mengenal Gus Sholah sebagai sosok yang peduli dengan Ahlussunah walJamaah. Kepedulian itu dalam banyak aspek, pengamalan tradisi, pemahaman dalilnya, atau penulisan dalilnya.

Gus Sholah yang lahir pada 11 September 1942 adalah pengasuh Tebuireng, menggantikan pamannya, KH. Yusuf Hasyim, sejak April 2006.

Gus Sholah, seperti kita tahu, adalah adik kandung Gus Dur. Di antara keenam putera Kiai Wahid Hasyim, tampaknya dua nama inilah yang “bersinar” dan muncul sebagai sosok yang bisa kita sebut sebagai tokoh bangsa, tokoh nasional, dengan pengaruh yang lintas golongan, kelompok, dan agama.  Yaitu, Gus Dur dan Gus Sholah.

Sama dengan Gus Dur, juga putra-putri almaghfurlah Kiai Abdul Wahid Hasyim lainnya, Gus Sholah adalah pribadi yang bersahaja dan sederhana. Dia ini tokoh, keturunan orang yang punya nama besar, tapi mudah ditemui dan mudah diajak bicara.

Orangnya jauh dari kesan mempersulit urusan, bersedia menyapa, bertemu, dan bicara dengan siapa saja. Gus Sholah memilih biasa saja. Bicaranya pun tidak basa-basi (suaranya khas, serak dan berat). Sekali lagi, susah mencari orang begini. Kita kehilangan teladan budi pekerti yang lembut.

Bahkan karena kebersahajaannya, saat Gus Sholah menjadi pengasuh utama Pesantren Tebuireng, menggantikan pamannya Kiai Yusuf Hasyim, banyak orang yang ragu kemampuan Gus Sholah memimpin pesantren. Bukan saja karena beliau selama ini lebih banyak tinggal di luar pesantren, bahkan ilmu agamanya pun diragukan.

Namun, Gus Sholah membuktikan bahwa dirinya juga seorang kiai yang layak mempin pesantren besar warisan kakeknya. Di bawah kepemimpinan Gus Sholah, Tebuireng tumbuh pesat menjadi pesantren yang kokoh dan berwibawa.

Kita kehilangan teladan orang yang punya perhatian pada dunia pendidikan yang memadukan antara “ilmu umum” dan “ilmu agama”.

Kita semua kehilangan banyak hal karena kepergian Gus Sholah. Akhirnya hanya bisa berdoa, semoga beliau husnul khotimah, diampuni segala khilaf dan dosanya. (fatur/bbs)

 

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More