Home Khasanah Dr. Ali Mohamed Zaki : Sang Penemu Virus Corona

Dr. Ali Mohamed Zaki : Sang Penemu Virus Corona

by Fatur Rohman
0 comment 120 views

 

Dari beberapa penelitian, virus Corona muncul dari kebiasaan memakan kelelawar dan ular tertentu adalah faktor utama virus berbahaya hingga bisa menjangkit pada manusia. Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China dituding pembawa virus corona baru atau novel coronavirus (2019-nCoV) yang kini sedang mewabah.

Bukan hanya negeri tirai bambu atau Tiongkok, negara lain juga terserang wabah ini, diantaranya : Australia, Kanada, Kamboja, Prancis, Jerman, Jepang, Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat.

Ribuan nyawa sudah melayang. Bak film Zombie, Wuhan seperti “kota mati”,  mereka yang terjebak di dalamnya dilarang keluar. 

Di tengah kekhawatiran terkait penyebaran virus corona baru (2019-nCoV), sebuah nama muncul dan viral di media sosial. Dia adalah  Dr. Ali Mohamed Zaki, sosok muslim berkebangsaan Mesir.

Akun Facebook Delicool pada 28 Januari 2019 mengunggah tulisan mengenai Dr. Ali Mohamed Zaki, sang penemu Virus Corona.

Berikut ini narasinya:

PADA pertengahan Juni tahun 2013, Ali Mohamed Zaki, seorang ahli virus Rumah Sakit Dr Soliman Fakeeh di Jeddah, Arab Saudi, dapat telepon dari seorang dokter yang khawatir dengan seorang pasiennya. Pasien berusia 60 tahun itu telah dirawat di rumah sakit karena virus pneumonia yang parah, dan dokter minta tolong Zaki mengidentifikasi virusnya. Zaki pun memperoleh dahak dari pasien dan mulai menelitinya. Dia menjalankan tes lab yang biasa. Hasilnya tak memuaskan. Negatif.

Zaki lalu mengirim sampel ke laboratorium virologi terkemuka di Erasmus Medical Centre di Rotterdam. Sambil menunggu tim memeriksa virusnya, Zaki mencoba satu tes lagi. Kali ini hasilnya positif. Hasil tes menunjukkan bahwa ada infeksi yang berasal dari keluarga patogen yang disebut coronavirus. Flu biasa juga disebabkan oleh coronavirus. Begitu juga infeksi Sars yang jauh lebih mematikan. Tapi kali itu beda.

Zaki lalu buru-buru mengirim email ke lab Belanda untuk memberi sinyal tanda bahaya. Dan yang menakutkan mereka dari hasil penemuan tersebut, ini adalah virus corona yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Untuk mengingatkan ilmuwan lain, Zaki kemudian memposting catatannya ke proMED, sistem pelaporan internet yang dirancang untuk secara cepat berbagi rincian penyakit menular dan wabah ke para peneliti dan lembaga kesehatan masyarakat.

Gara-gara laporan ilmiah tersebut, Zaki harus kembali ke tanah kelahirannya di Mesir, kontraknya di rumah sakit diputus. Di bawah tekanan dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi, Zaki dipecat. “Mereka tidak suka penemuan itu muncul di proMED. Mereka memaksa rumah sakit untuk mengakhiri kontrak saya,” kata Zaki kepada Guardian dari Kairo.

Saking serius dan mematikannya, pemerintah Arab tentu khawatir ketakutan itu bisa mempengaruhi mereka yang akan pergi umroh atau haji. Jadi paling aman menutup erat-erat penemuan penting tersebut demi income pemerintah. Dan,

“Saya terpaksa meninggalkan pekerjaan saya karena ini, tetapi itu adalah tugas saya. Ini adalah virus yang serius.” Pesan Profesor Ali Mohamed Zaki.

Dan sejak penemuan tahun 2013 pada pasien pneumonia berusia 60 tahun di Arab Saudi itu, bukan gak mungkin virus tersebut sudah menjalar ke seluruh dunia. Termasuk yang parah di Wuhan, China. Virus yang sementara diduga berasal dari sup kampret dan ular.

Mengapa hal ini tidak viral, setidaknya untuk di kawasan Asia pada umumnya ? Mungkin, jawabannya adalah : Politisasi ?

Masih ada ke artikel kedua, yang masih sama-sama di tahun 2013 yang tampaknya melengkapi gambarannya.

Ternyata masalahnya, seperti biasa, lebih kompleks dari yang kita kira, meskipun tidak terlalu baru juga. Rupanya Saudi kesal karena dr. Zaki dianggap melangkahi negeri tempatnya bekerja dengan menyetorkan sampel virus itu langsung ke Amsterdam. Mereka menuduh dr. Zaki tidak mengabari negara duluan. Dr. Zaki bilang dia sudah kirim laporan ke kerajaan, tapi dia merasa lambat tindak lanjutnya. Kerajaan balik menuduh bahwa dr. Zaki tidak menandai laporannya sebagai “darurat dan segera”, dan ya… gitulah. Sebetulnya di rincian prosedural begini, ribet juga cari siapa yang “salah”.

Kenapa Saudi kesal, rupanya ada preseden juga. Ini terkait dengan hak-hak yang muncul dari tempat ditemukannya virus, proses penelitiannya, dan hasilnya. Sekilas mungkin kok cemen dan rakus, tapi nyatanya isu kesehatan dan penyakit global ini bisa sangat politis. Bayangkan misalnya di suatu negara A ditemukan penyakit baru. Lalu oleh peneliti, atas nama keselamatan dunia, dibawa ke negara B yang lebih canggih, lalu dibuatkan obatnya. lewat proses telikungan hukum atau perjanjian ini itu, obatnya dipatenkan oleh negara B, atau malahan perusahaan swastanya. Lalu dijual mahal. Kasus begini membuat banyak negara jadi ekstra waspada.

Dan di artikel ini, kita diingatkan bahwa Indonesia juga pernah ngotot dan menjadi salah satu pelopor menuntut hak ini. Tahun 2005, Indonesia menolak menyerahkan sampel virus flu burung H5N1 ke WHO, dengan alasan biasanya negara asal tidak kebagian benefit atau semacam IP, hak2 alih teknologi, kolaborasi ilmiah atau bahkan akses ke obat penangkal H5N1 sendiri. Setelah enam tahun negosiasi, WHO bisa mencapai kesepakatan yang me-recognize hak-hak itu. Ternyata Indonesia tegas juga di waktu itu. ( source: FB news/ fatur)

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More