Home Khasanah Rajin Ibadah Tapi Pelit Adalah Celaka

Rajin Ibadah Tapi Pelit Adalah Celaka

by Fatur Rohman
0 comment

 

Tidak ada jaminan seorang yang rajin beribadah otomatis terjauh dari api neraka, jika ia adalah seorang yang bakhil alias medhit atau kikir. Sangat mungkin ibadahnya tidak diterima oleh Allah, karena rajinnya ia beribadah tidak membekas dalam akhlaknya

Allah SWT berfirman ; “Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al Ghasyiyah: 3 – 4).

Bahkan Allah Azza Wa Jalla lebih menyukai seorang yang dermawan sekalipun ia bodoh, daripada seorang ahli ibadah namun bersifat bakhil.

Dalam sebuah hadits shahih Rasullah bersabda: ”seorang pandir (bodoh) yang suka berderma lebih disukai Allah daripada ahli ibadah yang bakhil (pelit).” (HR.Tirmizi). Hadits ini seharusnya menampar kita yang merasa sudah banyak beribadah namun susah sekali mengeluarkan uang untuk sedekah

Dalam riwayat yang lain disebutkan:

“Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati (dermawan) lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir.” (HR. Ath-Thabrani)

Sesungguhnya amal ibadah yang kita lakukan seperti shalat, puasa, berdzikir, tilawah quran, bisa terlihat diterima oleh Allah atau tidaknya dari perubahan akhlak yang kita alami.

Jika dengan rajin shalat sunah siang-malam lantas kita menjadi lebih dermawan, murah hati, pemaaf terhadap kesalahan orang lain, insya Allah amalan ibadah kita tersebut berpotensi besar diterima oleh Allah. Namun jika tidak, misalnya; shalat tapi tetap saja pelit bersedekah, jangan-jangan amal ibadah yang kita lakukan hanyalah semakin menjauhkan diri kita dari-Nya.

Dalam surah Al-Maa’uun disebutkan bahwa orang yang melakukan shalat pun bisa menjadi celaka, yakni jika ia enggan menolong orang lain dengan memberikan barang berguna.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maa’uun: 1-7).

Ada beberapa penyebab tertentu dari kekikiran. Di antaranya adalah takut miskin.

Mengenai hal ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan, ”Aku heran dengan orang yang kikir karena ia hanya mempercepat laju kemiskinannya, padahal ia berusaha lari dari kemiskinan. Ia kehilangan kesenangan hidup yang ia dambakan (karena tidak menikmati hartanya akibat kebakhilannya). Ia hidup seperti orang yang miskin, namun ia harus mempertanggungjawabkan hartanya pada hari kiamat seperti orang kaya.”

Motif lain dari kekikiran adalah sikap berlebihan atau kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan keluarga. Orang yang demikian lebih suka menabung seluruh uangnya untuk masa depan anak-anak/keluarga daripada menginfakkan sebagian daripadanya di jalan Allah. Mereka berkeyakinan, harta akan dapat melindungi masa depan anak-anaknya. Padahal, Alquran telah memberi petunjuk bahwa kekayaan dan anak-anak hanyalah cobaan/fitnah. (Al-Anfal: 28). 

Motif berikutnya dari kekikiran adalah cinta harta secara berlebihan tanpa menganggapnya sebagai sarana ibadah. Mereka ini mengira bahwa zakat, infak, dan sedekah akan mengurangi hartanya. Padahal, Allahlah penetap segala rezeki.

Dan segala harta kita termasuk diri kita adalah milik Allah. Saat kita lahir kita tidak punya apa-apa. Telanjang tanpa busana. Saat mati pun kita tidak membawa apa-apa kecuali beberapa helai kain yang segera membusuk bersama kita.

Sesungguhnya harta yang kita simpan itu bukan harta kita yang sejati. Saat kita mati tidak akan ada gunanya bagi kita. Begitu pula dengan harta yang kita pakai untuk hidup bermegah-megahan seperti beli mobil dan rumah mewah.

Sebagai individu yang hidup di tengah masyarakat, sifat kikir pasti mempunyai konsekuensi yang bisa merugikan diri sendiri. Minimal ada dua kerugian bagi orang yang kikir.

Pertama, kerugian ketika di dunia, yaitu menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian di antara orang-orang dekat dan warga sekitar di mana ia tinggal. Paling tidak kikir telah menimbulkan rasa tidak senang pada orang lain.

Selain itu, orang yang kikir adalah orang yang letih. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menimbun kekayaan, namun ia tidak menikmati hartanya. Karena, ahli warisnyalah yang akan menikmatinya. 

Kedua, kerugian yang diterima pada hari pembalasan nanti. Yakni, orang yang kikir akan mempertanggungjawabkan harta kekayaannya pada hari akhir nanti layaknya orang kaya. Padahal, seperti yang telah disebutkan bahwa ia hidup di dunia ini layaknya orang miskin yang terus-menerus mengejar harta, namun ia tidak menikmatinya. Semoga diantara kita semua dijauhkan dari salah satu jenis penyakit hati ini. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More