Home Khasanah Menelusuri Jejak “Kiai Mas” Hingga Pesantren Ndresmo (bagian 3-habis)

Menelusuri Jejak “Kiai Mas” Hingga Pesantren Ndresmo (bagian 3-habis)

by Fatur Rohman
0 comment

 

Dari masa kemasa desa Ndresmo, makin mashur. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu agama di kawasan pesantren Ndresmo. Banyak tokoh-tokoh kiai Ndresmo yang berwibawa dan kharismatik. Hingga saat ini, Ndesmo sebagai “kawah candradimuka” para tokoh ulama. Diantaranya, KH. Muhibbin, yang sekarang menjadi ketua NU Surabaya, pernah mondok di pesantren An- Najiyah Ndresmo .

Para sesepuh dulu telah memberi contoh terhadap keturunan mereka, agar senantiasa mementingkan ilmu agama daripada duniawi. Arti pentingnya berserah diri pada Allah SWT disaat kondisi apapun. Membiasakan diri utuk selalu meng-khatamkan al Qur’an minimal 3 hari sekali. Serta, membiasakan diri agar tak tidur malam untuk memuji Allah hingga pagi. Semua itu masih terlaksana hingga saat ini. Maka jangan heran jika kita melihat Kawasan Nresmo, jika malam banyak santri yang  jarang tidur (tirakat)  .

Hingga hari Ini, Ndresmo masih tetap sebuah desa yang sangat religius. Makin banyak kegiatan saadah ( para sayyid ) dimasa globalisasi saat ini . Para saadah sekarang lebih menghadapi permasalahan yang beragam. Hal ini karena para pendatang baru makin banyak. Apalagi arus globalisasi teknologi yang berkembang pesat dan jaman telah banyak berubah.

Sekarang Ndresmo telah berganti nama jadi Sidoresmo atau Sidosermo. Masih seperti dulu, desa yang kecil tapi terdapat puluhan pesantren didalamnya. Ada 2 pesantren besar di kampung Ndresmo atau Sidoresmo itu. Yaitu, Ponpes an – Najiyah dan ponpes at-Tauhid. Sedangkan yang terbesar adalah ponpes an – Najiyah, dengan ribuan santri yang berasal dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan sebagian asia tenggara.

‎Dalam catatan sejarah, pondok pesantren an-Najiyah didirikan pada tahun 1613 oleh Kiai Mas Sayyid Ali Akbar, putra Sayyid Sulaiman ( Sunan Mojoagung cucu dari Sunan Gunung Jati).

Dalam perjalannya, pondok pesantren an-Najiyah di asuh oleh KH. Mas Mansur (pahlawan Nasional) seterusnya dilanjutkan oleh putranya, KH Mas Muhajir bin Mansur.

KH. Mas Muhajir memangku pesantren Sidosermo juga sekaligus perintis lembaga pendidikan formal di An-Najiyah. Beliau dikenal sebagai ulama pejuang kemerdekaan. KH Muhajir juga dikenal sebagai prajurit yang ikut mengangkat senjata melawan tentara belanda dalam revolusi kemerdekaan.

KH. Mas muhajir yang lahir pada tahun 1912. Menuntut ilmu agama Islam dan bermukim di Makkah selama 6 tahun setelah sebelumnya menjadi santri di Tebu Ireng Jombang. Kemudian melanjutkan menuntut ilmu di ponpes KH. Zaenal Abidin, di Mojosari, Nganjuk dan sejumlah pundok pesantren yang tersebar di jawa.

Hingga di akhir hayatnya, beliau dalam tetap istiqomah mereruskan perjuangan para pendahulunya dalam syiar islam dengan terus mengamalkan ilmunya di pondok pesantren an-Najiyah sebagai pengasuh ribuan santri.

Di era milenial ini, perjuangan melestarikan ponpes an-Najiyah, diteruskan oleh putra-putra KH. Mas Muhajir, diantaranya adalah KH. Mas Yusuf Muhajir. Dan  KH. Mas Yusuf  adalah salah satu wakil ketua yayasan An-Najiyah disamping KH. Mas Faqihuddin Muhajir, KH. Mas Abdullah Muhajir dan KH. Mas Mansur Muhajir sebagai ketua umum yayasan. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More