Home Khasanah Syeh Abdul Qadir Jaelani : “Iblis Lebih Tinggi Ilmunya di Banding Manusia”

Syeh Abdul Qadir Jaelani : “Iblis Lebih Tinggi Ilmunya di Banding Manusia”

by Fatur Rohman
0 comment 285 views

Ilmu pengetahuan tanpa aklak, tidak akan menjamin terciptanya kedamaian dan ketenangan. Ibarat pisau bermata dua; ilmu pengetahuan dapat merusak dan menghancurkan. Atau bisa dikatakan, dapat membangun dan menyejahterakan.

Agar tepat guna, harus ilmu harus dibarengi aklak yang baik. Dan harus ada pengawas moral yang mengarahkannya pada kebaikan bagi manusia dan kemakmuran bumi. Pengawas itu adalah akidah dan iman.

Allah SWT meninggikan derajat manusia di atas permukaan bumi ini, tidak hanya diukur dari keunggulan ilmu pengetahuan semata, tapi juga dari kualitas akhlaknya. Dengan kata lain, ketinggian ilmu tanpa dibarengi dengan akhlak mulia, akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Bahkan ilmu tanpa akhlak dapat membawa kepada kehancuran.

Suatu masyarakat akan tegak selama ada akhlak di dalamnya dan akan hancur ketika akhlak tidak ada di dalamnya. Dalam pandangan agama umumnya dan Islam khususnya, akhlak memiliki tempat yang tinggi dan kedudukan yang terhormat. Pujian tertinggi al-Qur`an untuk Rasulullah SAW adalah:”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS al-Qalam 4).

Nabi SAW. sendiri menyimpulkan risalah yang dibawanya dalam sabdanya: “Sesunggguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.  (HR. al-Bukharî).

Hadist tersebut di atas membawa pesan yang tegas dan jelas. bahwasanya, ukuran telah beragama itu seberapa baik akhlak yang terbentuk pada dirinya. Akhlak haruslah kita jadikan ukuran yang paling nyata bagi keimanan seseorang. 

Pemimpin para wali (sulthonul auliya’),  Syeh Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata: “Aku lebih menghargai orang yang beraklak, daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis-pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia”

Jelaslah sudah, dari perkataan beliau tersebut, bahwasanya: aklak itu lebih tinggi daripada ilmu. 

Aklak ialah suatu ibarat tentang pengetahuan yg dapat menjaga diri dari segala sifat-sifat yang salah serta melatih diri dengan budi pekerti baik.

Sedangkan Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Jangan sampai kita salah menempatkan ilmu diatas aklak. Adalah kekeliruan besar jika itu terjadi, di khawatirkan dapat memunculkan benih-benih kesombongan diri, merasa hebat. Nah, akhlak itulah tujuan membentuk insan kamil dan agama hanyalah alat untuk mencapai maksud itu.

Kita tahu bahwa tujuan akhir dari Islam itu sendiri adalah terbentuknya sebuah tatanan berkehidupan yang damai, aman, selamat dan sejahtera. Dan dengan pasti dapat kita katakan bahwa sebuah tatanan berkehidupan yang damai, aman dan sejehatera itu hanyalah dapat diwujudkan dengan jalan membentuk akhlak manusia baik. (fatur/bbs)

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More