Home Khasanah Alibi Berpoligami Jaman Now

Alibi Berpoligami Jaman Now

by Fatur Rohman
0 comment 1219 views

 

Aii… senangnya dalam hati
kalau beristri dua
Oh seperti dunia
Ana yang punya

Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Oh kepada isteri muda
I say i love you

( Madu tiga by Ahmad Dhani)

Dari syair lagu “Madu Tiga” yang dipopulerkan Ahmad Dhani sangat menggelitik, ada kesan jenakanya. Padahal,  isi lagu tersebut mengisahkan tentang seorang pria yang beristri dua (poligami). Kalau mau jujur, wanita mana yang mau dimadu atau suaminya berpoligami.

Penceramah kondang asal Sleman, Gus Miftah mengaku tidak sependapat dengan aksi poligami yang tujuannya menutup kedok perselingkuhan yang marak terjadi di tengah masyarakat. Sebab, poligami seperti ini banyak merugikan kaum perempuan di tanah air dan juga tidak sesuai dengan syariat Islam yang telah ditentukan. “Apalagi poligami model  ini banyak disalah artikan masyarakat, khususnya yang ada di perkotaan”.ungkapnya pada Matahati.news usai berceramah di masjid Baitul Ilmin, Girilaya, Surabaya.

Menurutnya, dalil kontektual Al Quran banyak dipahami sepotong- sepotong. Padahal ada ayat-ayat Al Qur’an lain malah me-warning pelaku poligami agar berlaku adil.  Poligami yang ada di masyarakat ini sudah tidak lagi mengikuti syariat Islam dan tidak berkeadilan.

Pemahaman secara kontekstual dan komprehensif sangat diperlukan untuk menyelami teks-teks ayat Al-Qur’an, termasuk ayat yang sering dijadikan asas untuk praktek poligami.

Pemahaman sepotong mengenai poligami terjadi jika ayat Al-Qur’an yang dianggap membolehkan poligami (Q.S. 4:3) tidak dipahami secara lengkap, apalagi hanya dianggap sebagai klaim untuk berpoligami. Lupakah kita bahwa masih ada An-Nisa’: 129 yang mengklaim bahwa “kamu tak akan pernah bisa berlaku adil meski kamu ingin”?

Masalahnya, dalam berbagai dakwah yang memaparkan mengenai poligami, hukuman jika tak dapat berlaku adil tak pernah begitu ditonjolkan. Inilah bahayanya penafsiran sepihak atas teks salah intrepretasi.

Sebagian besar pelaku poligami beralibi bahwa, “poligami adalah bagian dari syariat”, “poligami adalah sunnah”, “poligami lebih baik daripada zina”, dan “poligami merupakan solusi untuk prostitusi.”

Dibalik slogan-slogan itu, kelak kita tahu bahwa poligami tidak memberikan ruang keadilan bagi perempuan dan anak.

Poligami tak selamanya dibenarkan.  Buktinya,  dalam satu riwayat menceritakan, justru sebaliknya nabi Muhammad SAW marah besar ketika mendengar Fatimah ra, akan dipoligami  suaminya, Ali bin Abi Thalib.  Inilah kalimat marahnya Rasullah SAW:

“inni la adzan, (saya tidak akan izinkan), tsumma la adzan (sama sekali, saya tidak akan izinkan), tsumma la adzan illa an ahabba ‘ibn Abi Thalib an yuthalliq ‘ibnati “, (sama sekali, saya tidak akan izinkan, kecuali bila anak Abi Thalib (Ali) menceraikan anakku dahulu).
Fathimah bidh‘atun minni, yuribunima ‘arabaha wa yu’dzini ma ‘adzaha”.  ( Fatimah adalah bagian dari diriku; apa yang meresahkan dia, akan meresahkan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya, akan menyakiti hatiku juga).  dari: Jami’ al-Ushul, juz XII, 162, nomor hadis: 9026

Umumnya, poligami sebagai alibi agar tidak terjebak zina 

Nah, lelaki jaman Now  malah punya banyak alibi memutuskan untuk berpoligami antara lain karena tak bisa mengontrol hasrat seksual, menginginkan keturunan, atau karena “cinta” dengan perempuan lain. Namun konteks yang ekstrim, suami yakin berpoligami adalah haknya sehingga dia dapat menikah lagi tanpa diketahui istri pertamanya.

Di satu kasus disebutkan bahwa laki-laki cenderung berpoligami setelah mendapatkan pemasukan yang lebih besar, namun ada juga laki-laki yang tetap berpoligami meski untuk membiayai satu rumah tangga pun uangnya tak cukup.

Dalam titik ini patut kita pertanyakan, jika poligai diatur oleh negara dengan mengharuskan suami dapat menjamin kehidupan keluarganya, mengapa negara “mengizinkan” si laki-laki untuk poligami?

Ketika wanita merespon poligami suami, sebagai istri yang ‘sabar’  cenderung setuju karena mereka yakin bahwa poligami merupakan bagian dari hukum Islam. Sekaligus agar suaminya tak perlu berzina.  Sedangkan kelompok ‘pecinta sejati’  cenderung tidak setuju, tapi takut dianggap tidak beriman jika menolak poligami.

Menuntut cerai pun tak berani karena tak mau hidup sendiri, apalagi dalam ketidakpastian finansial. Kebanyakan wanita cenderung menolak poligami karena menurut mereka ada penafsiran sepihak mengenai poligami.

Dalam penerapannya pun, tak pernah ada laki-laki yang bisa adil terhadap para istrinya. Poligami tak menyisakan apa-apa selain penderitaan bagi perempuan dan anak.

Beberapa dari mereka harus menerima celotehan tetangga seperti, “Mungkin dia dipoligami karena tidak bisa mengurus suami, salah dia sendiri!” atau jika seorang istri menolak poligami, maka akan dituduh, “Kamu tidak beriman pada Islam.”

Perceraian tidak selalu menjadi pilihan mudah. Dalam satu kasus, seorang istri sadar bahwa dia tak bisa bercerai karena mempertimbangkan nasib anak-anak mereka. Sebagai simbol penolakan atas poligami tersebut, dia menolak melakukan hubungan intim dengan suami, meski akhirnya dipaksa.

Istri lain sadar bahwa ia membutuhkan uang agar bisa hidup setelah bercerai, maka ia bertahan hidup dalam lingkaran poligami sambil menabung agar dapat hidup stabil setelah bercerai. Ini artinya perempuan juga tak ambil diam, masih ada yang berusaha menjadi agen bagi dirinya sendiri.

Istri pertama barangkali mengalami sakit hati yang mendalam saat menghadapi poligami suaminya. Namun, bukan berarti istri kedua tak luput dari perbincangan. Mereka seringnya dilabeli “gila harta” atau “perebut suami orang.” Risiko poligami adalah mungkin bagi semua perempuan.

Terbukti, penafsiran tekstual dan sepotong-potong pada ayat-ayat Al-Qur’an hanya akan membuat kita berlaku tidak adil di muka bumi ini.Tentu ini membahayakan, karena misalnya, bisa jadi kita berhenti pada bab marah dan terus berlaku semena-mena pada sesama, tanpa melanjutkan proses belajar dan mengenal bab berkasih-sayang. Kita hanya akan memilih mempraktekkan ayat-ayat yang menguntungkan kita semata. Termasuk, pada ayat mengenai “pembolehan” poligami.

Barangkali yang kita sangsikan kini adalah, apakah poligami jaman now masih mempunyai spirit poligami ala Nabi; yang bertujuan menghidupi janda dan anak yatim.  jangan salah, jika ingin berdalih mengikuti Sunnah Nabi. Padahal,  Rasullah sendiri  lebih lama bermonogami daripada poligami.

Apa cuma itu Sunnah Nabi yang menjadi prioritas untuk diikuti? Mengapa tetangga yang kelaparan atau saudara butuh bantuan terkadang kita cuek seakan tak tahu. Ada sunnah-sunnah nabi yang lebih urgen, bukan malah mengedepankan ego demi bisa memuaskan sahwat dengan alibi menjalankan sunnah. (fatur)

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More