Home Khasanah Ngaji Sufi Ala Jallaludin Rumi

Ngaji Sufi Ala Jallaludin Rumi

by Fatur Rohman
0 comment 443 views

 

Mungkin anda pernah mendengar nama Jalaluddin Rumi ? tapi bukan nama anak Ahmad Dhani yang bersaudara Dul Dan Al. Dia adalah seorang sufi paling terkenal dan membawa islam pada puncak kejayaan dengan karya-karyanya yang mendunia. Dari mulai tarian Sufi (darwis) yang melambangkan thawaf, serta syair – syair tentang cinta pada sesama dan Rabb yang maha Agung.

Maulana Jallaludin Rumi lahir pada pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi di balkh. sejak dari kecil Rumi sering berpindah – pindah tempat tinggal,dan mendapatkan banyak guru spiritual. disalah satu kota Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. 

Dan ada beberapa guru lain, salah satunya adalah Syamsuddin dari Tabriz, yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf. Setelah Syamsuddi wafat, Rumi kemudian bertemu dengan Husamuddin Ghalabi, dan mengilhaminya untuk menulisakan pengalaman spiritualnya dalam karyanya monumentalnya Matsnawi-ye Ma’nawi.

Karya – karya Rumi biasanya ditulis dalam bentuk puisi, isinya tentang revolusi ilmu kalam yang pada saat itu sedang kehilangan kekuatannya. karya dari Rumi mempunyai ciri khasnya sendiri dari pada karya sufi lain, salah satu yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide. dan berikut adalah beberapa hal yang bisa kita pelajari dari karya – karya Rumi.

Inilah pelajaran-pelajaran yang dapat di ambil dari syair-syair Rumi :

Apa yang tampak didepan kita, bukanlah hakekat dari sesuatu itu yang sesungguhnya. Dari pengalaman spiritualnya, Rumi mengatakan bahwa apa yang tampak bukanlah yang sebenarnya, jadi jangan terkecoh dengan tampilan awal seseorang. yang lahir bukanlah yang sejati. 

Apa nampak dari bumi adalah debunya, namun dibalik debu itu adalah sifat – sifat Tuhan yang mengejawantah. Dimensi dalamnya adalah sebongkah emas, sementara dimensi luarnya adalah sebongkah batu. dari permisalan tersebut, Rumi ingin memberikan sebuah petuah bahwa apa yang kita lihat didunia ini harusnya tidak hanya dilihat dalam kondisi fisik atau luar saja.

Berhati – hatilah jangan tertipu, banyak hal yang kau anggap sebagai penyebab, sebenarnya adalah hijab. ini yang sering terjadi pada kita hari ini, seolah – olah kita sudah tahu bahwa itu adalah tujuan dalam hidup, tetapi ternyata bukan.

Kalau manusia dianggap manusia dari bentuk fisiknya, maka Muhammad dan Abu Jahal memiliki kualitas yang sama. lukisan di atas dinding pun persis seperti manusia. lihatlah, apa yang kurang? Lukisan indah itu kehilangan ruh-nya. pergilah, carilah mutiara yang berharga.

Manusia sebagai mikrokosmos, Rumi berpendapat bahwa manusia adalah mikrokosmos (jagat kecil), yang mampu menyerap makrokosmos (jagat besar) didalam bingkai yang kecil. Seorang penyair yang baik, bisa melihat keindahan hanya dari dirinya sendiri, karena dia sudah mengenal dirinya sendiri sampai yang terdalam. Intelek manusia mampu menerangkan rahasia ini sampai sedalam-dalamnya bila digosok oleh cinta, dengan cara melatih diri untuk mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.

Inilah nasihat-nasihat Rumi agar menjadi muslim yang lebih baik lagi

1. Jadilah Seperti Sungai

Dalam hal kedermawanaan dan membantu orang lain jadilah seperti sungai yang terus mengalir tiada henti tanpa mengharap kembali. Bukankah satu kebaikan yang kita tanamkan akan menjadi sebuah pohon kebaikan. Dari sebuah pohon kebaikan tersebut akan muncul buah kebaikan yang tak terhitung jumlahnya. Artinya bahwa satu kebaikan yang kita lakukan, Tuhan akan balas dengan kebaikan yang berlipat ganda apalagi jika kebaikan yang terus menerus dilakukan.

2. Jadilah Seperti Matahari

Maknanya adalah bahwa hidup ini hanya persinggahan jangan tinggalkan kebencian tetapi tanamkan cinta sebanyak-banyaknya untuk orang-orang disekitar kita. Berikan kehangatan kepada siapa saja tanpa diskriminasi. Bukankah setiap manusia tidak suka akan kebencian.

3. Jadilah Seperti Malam

Malam yang gelap membuat manusia tak bisa melihat apapun, ini menjadi perumpamaan bahwa sebagai manusia harus menutupi aib saudaranya. Seseorang yang diamanatkan untuk menyimpan sebuah rahasia harus mampu menjadi seperti malam yang menutup rapat tanpa pernah membocorkanya.

4. Jadilah Seperti Orang Mati

Ketahuilah, bahwasanya marah itu seperti bara api dalam hati manusia yang bisa saja membinasakan diri sendiri. Hal ini dapat terlihat dari merahnya kedua mata dan tegangnya urat darah di leher orang yang sedang dikuasai kemarahan. Mengendalikan kemarahan bukanah sebuah perkara yang mudah oleh sebab itu cara yang paling ampuh adalah diam. Karena keputusan apapun yang diambil dalam marah bisa saja adalah keputusan yang salah.

5. jadilah Seperti Bumi

Bumi selalu menempatkan dirinya dibawah meskipun terkadang Ia lebih baik dari langit. Sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan maka tidak ada hal yang dapat kita sombongan termasuk ilmu yang kita miliki. Bukankah ada 3 tingkatan orang berilmu yaitu: Pertama, orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan orang itu merasa pintar. Kedua, orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan seseorang itu disukai Allah dan dicintai orang (tawadu). Terakhir orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan dirinya semakin tidak tahu apa-apa”. Artinya bahwa kerendahan hati seseorang dapat dicapai salah satunya dengan ilmu. Jadilah manusia yang penuh kerendahan hati karena Tuhan tidak menyukai sifat sombong.

6. Jadilah Seperti Laut

Hidup dengan keberagam menuntut seseorang harus bisa saling menghargai satu sama lain. Jadilah seperti laut yang mempunyai sifat lapang dan siap menampung setiap pandangan-pandangan berebeda. Jangan jadikan perbedaan menjadi alat pemecah belah tetapi jadikan perbedaan ini sebagai sebuah alat pemersatu caranya adalah dengan toleransi. Jadikanlah perbedaan yang ada sebagai penambah khasanah ilmu pengetahuan, tetapi tetapkan dalam diri mana yang menjadi pilihan kita dan menghormati setiap keputusan orang lain.

7. Jadilah Seperti Tampilanmu

Hiduplah dengan penuh kejujuran dengan menampilkan jati diri dengan apa adanya. Pada dasarnya kejujuran merupakan kunci bagi seseorang jika ingin dipercaya. Setiap rejeki yang dihasilkan dari kejujuran pastilah akan menjadi energi positif yang menghadirkan kebahagian dan kedamaian dalam jiwa. Karena hidup jujur itu menyehatkan, pikiran dan emosi akan selalu membawa ke alam positif pula.  ( Fatur/bbs)

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More