Home Khasanah Strategi Dakwah Sunan Kalijaga

Strategi Dakwah Sunan Kalijaga

by Fatur Rohman
0 comment

Pendekatan budaya adalah strategi dakwah Sunan Kalijaga. Wali kharismatik yang asli berdarah jawa ini sangat toleran pada budaya lokal. Dia memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah dengan aliran sufistik yang berbasis salaf.

Putra Tumenggung Wilatikta ini berpendapat, bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi.

Beliau berkeyakinan, jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah.

Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah penggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Raja).

Tata letak kota dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Raden Said (Sunan Kalijaga). Metode dakwah tersebut di atas sangat efektif beliau lakukan di tanah Jawa ketika itu hingga sekarang ini.

Sebagian besar adipati di Jawa memeluk islam melalui Sunan Kalijaga. Diantaranya adalah Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer ditanah Jawa disamping Syeh Siti Jenar.

Sunan Kalijaga merupakan salah seorang perancang Masjid Agung Cirebon, dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang menjadi salah satu tiang utama mesjid merupakan kreasinya.

Sepak Terjang  kontroversial Sunan Kalijaga

Jika menengok kebelakang, beliau seorang anak bangsawan yang sedih ketika rakyat ayahnya hidup dalam penindasan. Darah mudanya bergejolak. Ia berontak. Raden Said mulai beraksi.

Dia merampok iring-iringan prajurit Majapahit yang membawa hasil upeti berupa bahan makanan (gabah). Yang hasilnya dibagi-bagikan pada rakyat yang kelaparan. Dalam setiap aksinya, dia selalu mengenakan kain hitam sebagai penutup wajah ( cadar). Aksi perampok baik hati ini dijuluki oleh masyarakat sebagai Brandal Lokajaya.

Ada banyak hal yang nyleneh terkait dengan salah satu putra Adipati Tuban ini dibanding para wali lainnya. Tapi tak ada satu pun catatan yang berkeberatan atas segala kiprah dan pendekatannya selama ini.

Sangat jauh berbeda dengan, menurut versi Cirebon, salah satu mertuanya, Pangeran Lemahbang, yang mesti tersisih atau disisihkan atas segala kontroversi yang dibawanya.

Dari benda peninggalan beliau, tergolong kontroversi .  Betapa tidak,  bila di perhatikan di kompleks pemakaman Raden Said  di Kadilangu, Demak ada seonggok “sela palenggahan” (batu duduk) laiknya para pertapa.

Bagaimana seorang yang dikenal wali yang sepanjang hayatnya mensyiarkan agama Islam melakukan semedi, yang notabene bersumber dari ajaran dan praktik agama Hindu-Buddha dan penganut kapitayan?

Dan yang menarik, kenapa praktik seperti ini luput dari perhatian kalangan santri sendiri, di mana seolah apapun yang terkait dengan Sunan Kalijaga tak usah dipermasalahkan.

Justru dari sinilah letak pentingnya seorang Kalijaga, yang menunjukkan daya rajutnya yang kuat atas segala perbedaan. Dan fakta inilah salah satu hal yang membuat kenapa ia diterima, dihormati dan dielu-elukan baik oleh santri maupun penganut kapitayan, baik pejabat maupun orang rakyat biasa.

Dalam khazanah budaya Jawa, mantan Brandal Lokajaya itu ditahbiskan sebagai Guru Suci Wong Tanah Jawi. Sementara di kalangan santri (para sufi), ia dibetik sebagai seorang yang mampu hidup di dua alam disebut sosok yang mumpuni.

Ada satu cerita tutur mengenai bentuk semedi ini. Dahulu kala ada istilah “kyai” dan “kiniyai.” Yang pertama mengacu pada agamawan yang dipandang tak melakukan praktik yang oleh awam dianggap menyimpang. Sedangkan yang kedua identik dengan apa yang di masa kini dikenal sebagai praktisi “klenik.”

Kalijaga, dengan melihat segala sepak-terjangnya selama ini, berusaha memadukan dua pendekatan tersebut. Ia berdiri di ruang ambang antara mayoritas walisanga dan salah satu mertuanya sendiri: Siti Jenar.

Barangkali, gelar “Kalijaga” tak ada urusannya dengan sungai ataupun nama sebuah wilayah, melainkan aliran atau paham yang sudah menjadi tugasnya untuk dijaga. Itulah kenapa Kalijaga adalah satu-satunya wali yang diterima baik oleh penganut Islam (santri) dan kapitayan. Secara historis, ia dengan berbagai modal yang dimiliki mampu melintas batas di antara keduanya. Secara metaforis, itulah arti dari ‘hidup di dua alam’ . Yo nang kono , yo nang kene (ya disana, ya disini. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More