Home Khasanah Menyorot Budaya Bersarung Di Nusantara

Menyorot Budaya Bersarung Di Nusantara

by Fatur Rohman
0 comment

Sebagian besar masyarakat Indonesia tak asing dengan kain sarung. Jika dipakai (khususnya kaum pria) disebut sarungan . Nah, budaya sarungan sudah melekat sejak dulu kala. Sarungan, sebenarnya simbol ilmu dan wawasan agama. Sebab, sarungan juga identik dengan santri atau ulama. 

Apalagi di pesantren,  para santri mengenakan sarung merupakan pemandangan umum. Bukan hanya dikenakan mau ke masjid saja, untuk pakaian keseharian juga nyaman dipakainya.

Sarungan ibarat ‘pakaian adat’ dan identitas kebanggaan. Namun, sebenarnya tak hanya di lingkungan pesantren saja,  tapi hampir seluruh masyarakat Indonesia, akrab mengenakan sarung sebagai busana sehari-hari. Misalnya, masyarakat disekitar gunung Bromo ( tengger.red) yang selalu mengenakan sarung untuk menghangatkan badan.

Di hampir setiap daerah memiliki corak sarung yang berbeda – beda juga. Kain sarung juga seperti sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Itu artinya, sarung penting untuk dilestarikan. Jangan sampai tergeser oleh pakaian keagamaan dari budaya timur tengah seperti gamis atau jubah dan bahkan celana cingkrang yang akhir-akhir ini mulai banyak dipakai oleh generasi Islam.

Sebenarnya tidak ada yang buruk dari pakaian-pakaian itu. Karena itu hanya pakaian, hanya simbol dan ornamen lahir manusia. Yang lebih penting dari itu adalah pemaknaannya.

Namun demikian, kain sarung juga bukan sesuatu hal yang buruk semisal lantas perlu dibid’ahkan karena Rasulullah SAW tidak pernah memakai sarung. Kita hanya menjaga kekayaan tradisi yang memberikan nilai khas tersendiri. Supaya identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang mempresentasikan Islam di nusantara tidak luntur begitu saja.

Kain sarung itu tidak ribet, yang tanpa karet, atau atribut resleting dan kancing. Kain sarung bentuknya sangat sederhana. Namun corak kain sarung sangat beragam dan detailnya apik. Seperti seharusnya pemikiran kita dalam bersosialisasi di tengah masyarakat yang kompleks seperti corak sarung. Bahwa kita hanya perlu berbuat baik dengan memberi manfaat kepada orang lain .

Di dunia seni tradisional, seperti halnya Ludruk, tak jarang para pelakon pria mengenakan sarung sebagai simbol kehidupan masyarakat yang bersahaja. “ Sarung memang sudah jadi tradisi masyarakat kita. Dalam memerankan kisah sehari-hari, saya selalu memakai sarung” ujar Taufik seorang pengamat budaya dan pimpinan seni Ludruk, Taufik CS. Ia mengaku punya koleksi 27 sarung dengan berbagai motif.

“ Sarung digambarkan dengan tidak adanya atribut kancing dan resleting yang mengekang pergerakan badan. Artinya, kita semestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul.”katanya. Lebih lanjut, Taufik menjelaskan, sarung dipakai adalah sebuah pengibaratan untuk menerima dengan lapang apa yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama. Gulungan kain diperut mengisyaratkan supaya kita tetap kuat menjaga silaturahmi antarsesama.

Inilah, filosofi sarung yang penuh makna itu bisa kita jadikan kontemplasi akan kehidupan sosial kita yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek. Dari sebuah kain bahkan kita bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. (FATUR)

 

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More