Home Khasanah Masjid Digembok, Musafir Gigit Jari

Masjid Digembok, Musafir Gigit Jari

by Fatur Rohman
0 comment 850 views

 

Ada suka duka mengingat perjalananku sebagai “musafir” 19 tahun silam yang kemana-mana mengendarai Honda CB kesayanganku . Saat itu saya mengawali perjalanan ke daerah Karang Ploso, Malang bersama saudara sepupu pada tahun 2001. Suasana hujan, jauh dari penginapan, SPBU, dan tak ada teman yang menjawab telepon kami kala itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB menjelang tengah malam, dan badan sudah lelah serta basah kuyub karena kehujanan

Nah, di perempatan jalan desa Karang Ploso, dikanan jalan kami sepakat berhenti di masjid sekaligus berencana Shalat Isya. Namun, ternyata masjid digembok. Aduh nasib. Padahal saya ingin shalat dan istirahat sejenak karena pukul 07.00 WIB harus sampai kota Batu. Suasana dingin dan berkabut pun harus kami hadapi usai Shalat Isya kala itu sampai pagi. Kami terpaksa salat di luar masjid meski dengan kondisi dingin. Kira-kira apakah anda pernah mengalami keadaan seperti saya?.

Kalau masjid digembok itu menurutku sudah biasa apalagi jaman sekarang. Saya juga punya  pengalaman pahit diusir dari masjid. Tahun 2011, usai silaturahmi dari rumah kerabat ayah dari Madiun. Waktunya balik ke Surabaya. Melintasi daerah Nganjuk, kok.. mata terasa mengantuk. Dari kejauhan ada sebuah masjid berarsitek modern, disitulah kami berhenti sejenak.  Saat ingin istirahat dan memasuki masjid, ternyata masjid dalam kondisi ditutup gerbangnya.

Pintu gerbang bisa kami buka, namun pintu utama digembok. Tak selang lima menit, datang seorang laki-laki dengan nada keras. “Mau shalat atau cuma istirahat di sini?” kata dia kala itu. Saya pun menjawab agar meyakinkannya “Ya, Pak, mau shalat” .

Ia pun masuk ke ruang takmir. Tak lama, ia pun berkata lagi, “Sudah Salat dhuhur belum? Kalau tidak shalat tak usah ke sini, pergi saja,” kata orang itu sambil mengusir kami.

Saya heran, ini hari Jumat, la kok bapak tersebut menyuruh kami Salat dhuhur. Apakah dia tadi tidak jumatan atau bagaimana? Pikir saya kala itu. Mungkin ini nasib saya dan teman yang aku bonceng yang kurang mujur kala itu. Sehingga kami harus diusir karena tidak Shalat dhuhur, padahal kami habis Jumatan di Madiun.

Padahal dikampung saya, pengurus takmir tak pernah memerintah untuk mengembok pintu utama masjid. Paling-paling, pintu gerbang hanya di grendel saja .

Namun, di era sekarang fenomena menggembok masjid tampaknya menjadi kewajiban. Barangkali marak pencurian kotak amal, padahal kotak amal bisa dimasukkan ke dalam almari utama di dalam masjid.

Ada hal mendasar yang harus dibenahi. Ketika menghalangi orang ingin ibadah di masjid justru mendapatkan dosa. Meski menggembok masjid bertujuan mengamankan kekayaan masjid, hal itu justru melecehkan Tuhan. Betapa tidak, jika masjid itu rumah Allah pasti dijaga langsung oleh Allah. Kita harus meyakini hal itu.

Allah akan menjaga rumah-Nya

Sebenarnya, fungsi utama masjid untuk bersujud atau ibadah. Jadi, semua tempat yang bisa dijadikan sujud, secara substansial bisa disebut masjid. Namun, untuk kenyamanan dan keyakinan ibadah tentu shalat diutamakan ke masjid.

Di era sekarang, yang diprioritaskan kebanyakan hanya fisiknya saja. Banyak orang berlomba-lomba membangun masjid megah di tiap Rukun Warga (RW) dan desa, namun setelah jadi yang berjemaah di sana hanya orang-orang itu saja. Seakan-akan, menghidupkan agama hanya urusan membangun, bukan meramaikan dan memakmurkan.

Masjid dibangun indah, namun tiap malam digembok rapat, baik pintu gerbang maupun pintu utama masjid. Model inilah yang disebut “menuhankan masjid”. Menganggap masjid itu suci, tapi tak boleh digunakan ibadah di luar waktu jamaah shalat lima waktu.

Sistem dan peraturan yang dibuat takmir harus dibenahi. Artinya, masjid itu terbuka untuk semua kalangan. Bahkan, sekadar untuk tiduran, istirahat, mengisi baterai ponsel, bahkan pipis juga tak ada masalah di luar waktu jemaah shalat lima waktu.

Justru, di situlah toleransi Islam terhadap umat dan menunjukkan Islam adalah agama rahmat. Khususnya, masjid-masjid yang berada di tepi jalan raya dan kota-kota. Bagi musafir, orang mudik lebaran atau bepergian tentu sangat membutuhkan masjid. Mereka datang ke masjid kapan saja karena kondisi perjalanan.

Jika masjid digembok, justru membuat mereka tak nyaman ketika shalat di emperan masjid. Apalagi, semua pintu di masjid digembok, pasti orang mau shalat ke dalam akan susah karena tak bisa masuk.

Boleh atau tidaknya menggembok masjid sebenarnya sesuai kondisi, konteks, dan manajemennya saja. Sebab, fenomena mengunci atau menggembok masjid tak hanya di kota, namun juga di desa. Alasan klasik agar benda-benda di masjid aman menjadi alibi para pengurus takmir. Padahal, jika kita percaya masjid itu rumah Allah, mengapa harus dikunci?

Jika ada pencuri ampli, kotak amal atau rukuh, itu urusan Allah bukan urusan manusia. Justru, jika ada orang ingin salat tapi tidak jadi karena masjid digembok, bukankah itu jauh lebih berdosa? Lebih parah lagi, mereka tak jadi shalat karena waktunya habis.

Kita harus ingat firman Allah. “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat” (Q.S Al-Baqarah: 114).

Dalil ini relevan diterapkan di bulan Ramadan. Tentu, ramainya masjid harus setiap saat bukan saat Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, atau saat pengajian saja.

Membangun masjid tak sekadar fisiknya saja. Namun membuka ruang dan waktu untuk digunakan salat semua orang tiap saat adalah wujud membagun masjid. Sebaliknya, jika takmir menghalangi orang shalat di masjid lantaran digembok, itulah wujud merobohkan masjid.

Jika masjid selalu digembok, justru membuat warga sekitar malas ke masjid di luar waktu jemaah shalat lima waktu. Sebab, orang salat tak semuanya bisa berjamaah karena faktor kerja, tanggung jawab di luar, atau sedang sakit.

Agar tidak menjadi masalah dan memutus potensi orang shalat di masjid, harusnya ada manajemen masjid yang toleran. Pertama, penggembokan itu bisa dilakukan khusus almari yang ada ampli, mikrofon, atau benda berharga lainnya. Kedua, penggembokan kotak amal, meski sebenarnya bisa ditaruh di dalam almari tanpa harus digembok tiap saat demi keamanan. Ketiga, penggembokan itu tak perlu dilakukan, baik itu pintu utama atau pintu gerbang. Takmir atau merbot cukup menutup pintu gerbang/utama masjid saja jika khawatir ada pencurian kotak amal.

Ini penting diperhatikan, apalagi menjelang Ramadan. Di beberapa daerah, tradisi zikir, iktikaf di masjid selalu hidup di saat malam Ramadan. Warga bisa datang ke masjid kapan saja menjelang waktu sahur. Apalagi, nanti menjelang lailatulkadar, pasti banyak warga datang ke masjid berburu berkah malam seribu bulan tersebut.

Meski, tradisi iktikaf harusnya tak hanya saat Ramadan, melainkan tiap waktu karena tipe jemaah di sekitar masjid dan musafir yang mampir ke masjid bisa kapan saja.

Yang perlu diperhatikan, benda berharga di masjid hanya berupa ampli, mikrofon, kabel, dan kotak amal. Kotak amal bisa digembok dan semua benda-benda itu bisa ditaruh di almari di dalam masjid. Lalu, apa sebenarnya tujuan menggembok masjid? Padahal tujuan utama membangun masjid agar menyamankan umat, bukan sebaliknya selalu curiga kalau-kalau ada yang berbuat jahat di masjid. (fatur)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More