Home Khasanah Mengintip Kebiasaan Ziarah Wali Masyarakat Kediri

Mengintip Kebiasaan Ziarah Wali Masyarakat Kediri

by Fatur Rohman
0 comment

 

Ziarah ke makam adalah kebiasaan yang telah dipraktikkan oleh orang nusantara dan di komunitas Islam Indonesia menjadi semacam penanda resmi nahdliyin (para pengikut Nahdlatul Ulama).

Banyak yang meyakini, ziarah ke makam-makam leluhur atau orang-orang saleh menjadi penting dan memiliki makna yang dalam. Ada berbagai dasar yang menopang praktik ini. Tapi kali ini, kita  melihat kebiasaan ziarah ke makam dari sudut pandang lain. Mari ikuti saya melintasi kota Tahu, Kediri.

Di kota kediri, di kampung jalan Dhoho terdapat makam Syeh Sulaiman Syamsudin al-Wasil atau Syeh Ali Syamsu Zain yang dikabarkan sebagai Waliyullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wasil. Banyak yang tidak menyangka kalau di tengah pusat perbelanjaan tersebut terdapat makam yang menjadi salah satu wisata religi terkenal.

Letaknya di tengah pemakaman umum lingkungan Setono Gedong di belakang Masjid Aulia. Tidak sulit untuk menuju ke lokasi makam karena cukup dengan berjalan kaki sekitar 100 meter ke arah barat melalui gang yang cukup lebar di tengah Jl. Dhoho.

Tiap malam jumat, peziarah”membanjiri” komplek makam ini. Tetapi anehnya, mayoritas peziarah ternyata belum mengenal siapa yang mereka ziarahi. Belum tahu asal usulnya, keturunan dan sejarahnya.  Apakah Mbah Wasil keturunan Nabi  Sulaiman, atau Nabi Ibrahim, atau juga apakah beliau penerus Syeh Abdul Qodir Jaelani juga tidak ada yang bisa memastikan. Mereka hanya mengenal nama Mbah Wasil melalui cerita dari mulut ke mulut. Bahkan toko buku dan aksesoris di area Masjid Setono Gedong tidak menjual buku biografi Mbah Wasil. Kata pemilik toko, buku tentang Mbah Wasil belum ada karena memang tidak ada yang berani menuliskannya.

Tetapi wajar banyak yang tidak tahu, karena memang sangat minim sumber pustaka atau literatur yang menerangkan jati diri Mbah Wasil. Bahkan beberapa ahli sejarah sangat terbatas untuk bisa menerangkan biografi beliau secara detail. Hanya sedikit sumber dan dugaan berdasar analisa sejarah dan arsitektur serta anatomi bangunan makam.

Paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal usul Mbah Wasil, ada yang bilang beliau hidup di abad XI berarti sebelum wali songo dan ada yang menyebutkan beliau hidup di abad ke XIV di jaman walisongo. Menurut penjelasan Yusuf, juru kunci makam Mbah Wasil, Syeh Sulaiman Al-Wasil adalah utusan dari Istambul Turki pada abad ke XIV. Beliau diutus ke pulau Jawa untuk bertemu dengan walisongo guna membantu menyebarkan agama Islam pada masyarakat.

Seorang “sarjana kuburan”alias sarkub sepertihalnya, KH. Chamim Jazuli atau akrab disapa Gus Miek, ia juga pernah menyatakan bahwa yang terbaring di Makam Mbah Wasil,  Kediri lebih tua usianya daripada Walisongo.

Orang nusantara, baik yang berlatar belakang kejawen maupun nahdliyin, tak pernah memperlakukan makam selayaknya benda. Andaikata orang nusantara memahami makam sebagai tempat yang menakutkan, tentu tak akan ada yang namanya ziarah kubur. Di sinilah letak perbedaan pendekatan kesejarahan Gus Miek dengan para sejarawan akademik. Pertanyaan tentang yang mana kemudian yang paling benar tak lagi relevan. Sekali lagi, kebenaran adalah soal kemanfaatan.       

Dalam dunia tasawuf ada satu metode yang dikenal sebagai dzikir maut. Kematian di sini, lewat kebiasaan ziarah, dianggap sebagai sebentuk sarana untuk memahami dan mendidik diri. Barangkali, istilah Jawa “urip” lebih bisa mewakili apa yang disebut para sejarawan sebagai sein (being). Istilah kekiniannya, makam adalah wujud monumentalisasi manusia untuk melawan lupa.

Eksistensi makam membuktikan bahwa kehidupan manusia masih berlangsung, paling tidak, dalam kenangan orang yang ditinggalkan. Nah inilah,  makna makam bagi kemanusiaan. Senada dengan filosofi yang dilontarkan Kanjeng Sunan Kalijaga:  sangkan-paraning dumadi, lawan urip bukanlah mati sebagaimana yang banyak didengungkan orang. Urip tak pernah memiliki lawan, karena didunia tidak abadi. (fatur/bbs)

Related Articles

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More