Home Khasanah Awas, Jaman Wis Akhir (bagian 5 – habis)

Awas, Jaman Wis Akhir (bagian 5 – habis)

by Fatur Rohman
0 comment 141 views

 

Belum lama di media sosial heboh lantaran telah ditemukan hewan melata kecil yang dianggap ular berkaki empat. Hewan itu sebesar tusuh sate, orang sekitar Sidrap, Sulawesi Selatan menyebutnya Dabbah. Padahal, Dabbah itu adalah  binatang melata dari bumi yang akan muncul pada akhir zaman.  Dalam video itu , orang menemukan ular berkaki empat itu pun akhirnya menghebohkan publik. Usut punya usut, eh.. ternyata itu adalah kadal ular yang memang langka keberadaanya. Nah, jangan mudah terpancing informasi yang sekedar viral saja. Ingin tahu Dabbah dan tanda menjelang kiamat? Simak hingga tuntas.

Dabbah adalah makhluk besar yang akan dikeluarkan oleh Allah di tengah kebejatan manusia, dia akan berbicara dan memberikan nasihat kepada mereka, mampu berpikir, berbicara dan menyebut manusia dengan sebutan dan tanda yang bisa membedakan antara mukmin dan kafir. Tugas seorang muslim adalah beriman dan percaya dengan keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Betapa banyak ciptaan Allah di alam ini yang aneh, asing dan ajaib yang menunjukkan kekuatan dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah keluarnya Dabbah dari tempatnya. Sebagaimana firman Allah SWT: ” Apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami akan keluarkan seekor dabbah (binatang) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesunggguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)

Setelah Dabbah keluar, dia akan berbicara dengan manusia. Selain itu ia akan memberi tanda kepada orang kafir dan juga orang yang beriman kepada Allah. Bagi orang-orang kafir dabbah akan memberi tanda pada hidungnya sebagai tanda kekufurannya.

Sedangkan tanda untuk orang yang beriman, dabbah akan memberi tanda pada wajah mereka sehingga wajah orang-orang yang beriman tersebut menjadi bersinar.

Para ulama banyak yang berlainan pendapat mengenai tempat keluarnya dabbah. Namun dari sekian banyak pendapat yang muncul, diantaranya ada yang paling kuat.

Yakni,  pendapat yang mengatakan bahwa Dabbah akan keluar dari Mekkah, tepatnya dari masjid yang paling mulia. Pendapat tersebut diperkuat dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Asid dalam Majma’uz Zawawid VIII/ 7-8 yang berbunyi: ” Dabbah akan keluar dari masjid yang paling besar, tatkala mereka (sedang duduk-duduk tiba-tiba bumi bergetar) ketika reka sedang demikian tiba-tiba bumi terbelah”.

Dabbah ini oleh ulama, sebagaimana tercantum dalam kitab Tadzkirah, disebut sebagai makhluk raksasa yang muncul dari bukit Shafa yang retak dan semua orang melihatnya. Binatang ini mencium orang beriman lalu bersinarlah wajahnya.

Selanjutnya, ia menuliskan kata MUKMIN di antara kedua mata orang yang beriman tersebut.

Setelah itu, ia mencium orang kafir lalu menghitamlah wajahnya lantas ia tuliskan kata KAFIR di antara kedua matanya.

Adapun an-Naqqasy menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Dabbah adalah ular besar yang menjaga dinding Ka’bah yang tercabut oleh iqab saat kaum Quraisy hendak membangun Ka’bah.

Ada pula yang mengatakan bahwa Dabbah adalah al-jassasah sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Fathimah binti Qais, sebuah hadis yang panjang, kemudian dituturkan dan diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud secara ringkas, sedangkan kalimatnya dari Muslim.

Dalam hadis ini dituturkan:

“Selanjutnya, Rasulullah s.a.w. bertanya: ‘Tahukah kalian mengapa aku kumpulkan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda:‘Demi Allah, aku tidaklah mengumpulkan kalian karena takut atau berharap, tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari, yang merupakan seorang laki-laki Nasrani, datang lalu menyatakan baiat dan masuk Islam. Lantas ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sama dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang al-Masih Dajjal. Ia menceritakan kepadaku bahwa dirinya pernah naik di atas perahu di tengan laut bersama tiga puluh orang dari Lakhm dan Judzam. Mereka diombang-ambingkan ombak selama satu bulan di tengah lautan. Setelah itu, mereka mendarat di sebuah pulau di tengah laut yang terletak di tempat terbenamnya matahari. Mereka pun duduk di dekat perahu lalu memasuki pulau itu. Di sana, mereka bertemu dengan dabbah (binatang) yang gondrong dan berbulu lebat hingga tidak jelas mana yang depan dan mana yang belakang karena banyaknya bulu’.” (Hadis Sahih)

Dabbah, selain mempunyai kemampuan berbicara fasih dalam berbagai macam bahasa, makluk ini juga membawa tongkat Nabi Musa As. Sedangkan ditangan memakai cincin Nabi Sulaiman As. Dia akan keluar dari bukit Sofa dan Marwa.

Ibnu Jurayi sempat mengatakan jika sosok Dabbah (Dabbah al-Ard) pernah dijabarkan dengan rici oleh Ibnu Zubair. Makhluk tersebut seperti gabungan dari banyak binatang. Dia memiliki kepala seperti kerbau, sementara matanya menyerupai babi, dan telinganya bak gajah.

Wujud Dabbah Al-Ard seperti gabungan banyak binatang Sosok tersebut juga memiliki tanduk rusa jantan, namun lehernya seperti burung unta. Dada makhluk ini menyerupai singa dengan warna kulit harimau. Dia juga memiliki panggul yang mirip kucing, namun ekornya seperti biri-biri jantan dan kakinya seperti unta. Dalam penjelasan lain, digambarkan jika Dabbah al-Ard juga memiliki bulu panjang dan pendek. Tubuhnya begitu besar, namun gerakannya sangat cepat.

Kemunculan Dabbah al-Ard bukan cuma sebagai tanda kiamat, tapi juga memiliki tujuan khusus. Dikatakan jika sosok ini nantinya akan menandai wajah-wajah manusia seluruh dunia. Bagi yang beriman, Dabbah al-Ard akan membuat wajah si manusia tersebut cerah. Tapi sebaliknya, ketika yang ditandainya adalah orang kafir, maka makhluk besar tersebut akan menjadikan wajah si sosok tersebut gelap.

Dijelaskan jika makhluk ini juga akan menjerit di kawasan Maqam Ibrahim dan Hajar Aswad, dia juga menebar-nebarkan tanah di atas kepalanya. Pekikan suaranya akan terdengar di segala penjuru dan membuat orang-orang kafir berlarian karena ketakutan. Dalam kondisi yang sama, orang mu’min yang sudah mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari Dabbah al-Ard akan lebih tenang, dan tidak merasakan ketakutan apapun.

Dabbah al-Ard muncul setelah kematian para Ya’juj Ma’juj akibat virus yang diturunkan oleh Allah SWT. Dia keluar ketika bumi telah pulih dari bencana yang dibuat oleh Ya’juj Ma’juj. Tercatat pula dalam hadist jika makhluk ini akan memukulkan tongkatnya kepada semua manusia.

Bila Matahari Terbit Dari Barat

Selanjutnya, tanda kiamat yang pamungkas adalah bila matahari terbit dari arah barat. Disinilah, deadline kiprah manusia untuk beriman kepada Allah telah ditutup. Tak ada lagi gunanya orang melakukan sholat, puasa dan amal – amal lainnya.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal yang jika keluar, tidak ada gunanya bagi manusia imannya jika ia tidak beriman sebelum itu atau tidak melakukan kebaikan dalam iman; kemudian terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan dabbah al-ardh.” (Hadis Sahih)

Kala itu setiap orang, baik kafir maupun mukmin, akan mengetahui bahwa kiamat benar benar diambang pintu. Peristiwa terbitnya matahari dari barat itu menjadi pertanda iman seseorang tidak lagi diterima.

Bahkan, seandainya pada malam hari seseorang itu bertobat dan beriman kepada Allah, tetapi ia belum sempat beramal shalih, maka tobat dan imannya juga tidak akan diterima.

Allah subhanahu wa ta’la berfirman, “Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, Tunggulah! Kami pun menunggu.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 158)

Salah satu dari keajaiban peristiwa akhir zaman adalah perginya matahari dari tempat rotasinya dan berjalan menuju Arsy, lalu sujud kepada Allah hingga batas waktu yang sudah ditetapkan

Kondisi itu tentu saja akan menimbulkan dampak dan perubahan yang cukup besar.

Hal itu sebagaimana hadis yang dijelaskan dalam riwayat Abu Dzar r.a. bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu, kemanakah perginya matahari pada waktu itu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini terus berjalan hingga sampai ditempat menetapnya di bawah ‘Arsy,lalu tunduk bersujud. Maka tak henti-hentinya ia berbuat demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangkitlah, kembalilah ke tempat dari mana engkau datang tadi.’ Lalu ia kembali dan terbit lagi dari tempat menetapnya dibawah ‘Arsy, lalu ia tunduk bersujud. Maka tak henti-hentinya ia berbuat demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Bangkitlah kembalilah ke tempat darimana engkau datang tadi.’ Lalu ia kembali dan terbit lagi dari tempat terbitnya. Lalu ia terbit dari tempat tenggelamnya

Ketika,  matahari dan bulan sama-sama mencari sinar dan cahaya. Keduanya kemudian terbit menemui manusia lalu tenggelam kembali sebagaimana mereka terbit dan tenggelam sebelum itu. Setelahnya, manusia pun hidup tak lama di muka bumi. Dalam riwayat, disebutkan hanya 120 tahun sejak matahari terbit dari barat.

Seperti yang diceritakan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam: “Setelah matahari terbit dari barat, manusia hidup (di bumi) selama 120 tahun.” (Sanad hadis sahih dan tergolong khabar israiliyat)

Ada yang mengatakan bahwa hikmah dari terbitnya matahari dari barat adalah bahwa Ibrahim a.s. pernah berkata kepada Namrud,

Sesungguhnya, Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah ia dari barat,’lalu terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)

Semua orang-orang ateis dan para ahli perbintangan mengingkari hal ini dan mengatakan, “Hal semacam itu tidak mungkin terjadi.”

Karena itu, suatu hari Allah menerbitkan matahari dari barat agar mereka yang ingkar itu melihat bahwa matahari berada di bawah kekuasaan-Nya. Jika Dia kehendaki, Dia menerbitkannya dari timur dan jika menghendaki, Dia terbitkan dari barat.

Karena itu, bisa jadi bahwa yang ditolak tobat dan imannya orang-orang yang mengingkari terbitnya matahari dari barat adalah mereka yang mendustakan, sesuai dengan hadis Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Nah, tanda-tanda Jaman Wis (sudah) Akhir, sudah banyak terlihat hari ini. Tunggu apalagi mumpung masih ada waktu untuk bertobat. Sebelum tanda-tanda kiamat besar (kubro) muncul, yang sia-sia saja segala amal kita diwaktu itu. Semoga kita semua termasuk didalam golongan manusia yang beruntung, Amiin . (fatur/berbagai sumber)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More