Home HUKUM Anak Teraniaya, Sejak Ayah Masuk Bui

Anak Teraniaya, Sejak Ayah Masuk Bui

by Fatur Rohman
0 comment 184 views

 

SURABAYA – Dua orang berseragam Rumah Sakit Dr. Soetomo nampak mempercepat langkahnya memasuki kantor polsek Gubeng. Rupanya, petugas Dr Soetomo, melaporkan adanya dugaan penganiayaan sebab terdapat luka lebam pada wajah dan dekat kemaluan pada anak yang di bawanya. Laporan  dari pihak Dr. Soetomo ini diterima pada hari jum’at , 29 November 2019.

Semula, gadis mungil berusia 4 tahun warga jalan Pacar Kembang , Surabaya ini diduga mengalami keracunan obat. Namun, setelah dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Soetomo, dokter menemukan luka lebam pada wajah dan dekat kemaluannya. Diduga keras, bila si anak ini sebenarnya adalah korban dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Wakapolsek Gubeng, AKP Yahudi,  mengatakan kejadian ini berawal dari tim piket Polsek Gubeng , mendapat laporan dari pihak RS Dr. Sotomo, adanya anak dengan luka lebam di tubuhnya. Pihak dokter memberi tahu pada petugas kami yang piket kalau anak tersebut diduga dianiaya karena ada luka-luka lebam di mukanya,” kata AKP Yahudi saat dikonfirmasi di kantor polsek Gubeng, Surabaya.

AKP Yahudi pun memaparkan temuannya, bahwa JA selama ini memang tidak tinggal bersama ibu kandungnya, melainkan bersama bude atau kakak dari ibu kandungnya itu. Kediaman budenya berada di Jalan Pacar Kembang Surabaya.

JA terpaksa tinggal bersama kakak dari ibu kandungnya itu, sebab sang ibunda harus menjadi tulang punggung keluarga. Pasalnya ayah JA saat ini adalah seorang tahanan yang ditangkap Satresnarkoba Polrestabes Surabaya terkait kasus narkoba beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu menurut informasi dari keluarganya membawa ke rumah sakit itu karena keracunan obat. Tapi diperiksa oleh dokter tidak ada racun itu luka lebam semua dan akibat indikasinya dianiaya. Dan sampai saat ini, AKP Yahudi menyebut anak balita tersebut masih mendapatkan perawatan medis. Sedangkan pihaknya masih melakukan penyelidikan lanjutan terkait penyebab lebam di tubuh JA.

Dalam kasus ini, polisi semakin mencurigai kebenaran ada penganiayaan pada bocah perempuan. Karena orang tuanya terus meminta dilakukan pemulangan paksa anaknya.  Pihak kepolisian membuatkan laporan polisi (LP) agar kasus ini bisa ditindaklanjuti. Selain itu, hal ini dilakukan agar JA bisa mendapat perawatan hingga sembuh.

” Awalnya orang tua memaksa pulang. Akhirnya kita buatkan LP supaya tidak bisa pulang paksa. Kata dokter cukup parah lebamnya,” ujar Wakapolsek Gubeng yang mengakui telah melimpahkan kasus ini ke Unit PPA Polrestabes Surabaya.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA)  Polrestabes Surabaya membenarkan sedang menangani kasus dugaan penganiayaan JA, balita masih berusia 4 tahun yang sekujur tubuhnya penuh luka lebam. JA masih dirawat di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni menjeslakan , pihaknya sudah memeriksa enam orang saksi terkait kasus itu. “Sudah periksa enam orang, ada pelapor, ibu korban, korban, dokter, pakde dan budenya,” jelasnya singkat saat di hubungi via WA.

Selama ini, korban tinggal di rumah YG yang merupakan kerabat orangtuanya. Ia dititipkan karena sang ibu harus bekerja, sedangkan ayahnya masih menjalani hukuman karena terjerat kasus narkoba.

“YG dikenal tertutup. tetangga sekitar bahkan banyak yang tidak mengetahui ada anak kecil yang tinggal di rumah ini” . kata Suparmo, warga setempat sambil menunjuk rumah YG yang memang berpagar tertutup. (fatur)

Polda JATIM Sosialisasikan Anti KDRT

Membahas tentang kekerasan terhadap wanita dan anak, hingga di penghujung tahun 2019 ini  Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di wilayahnya terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Terutama mengenai kasus kekerasan KDRT.

Kasubdit Renakta Polda Jawa Timur, AKBP Festo Ari Permana mengatakan kenaikan ini terjadi pada kasus KDRT (naiknya angka disini, berarti masyarakat mulai sadar hukum) , yang naiknya cukup signifikan dari tahun 2017 ke 2018, dan 2019.

“Kalau terkait pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak lebih spesifik ke KDRT kalau data dari korban KDRT perempuan ada kenaikan dari tahun ke tahun, kalau analisa kami seperti itu,” kata Festo pada MATAHATI.NEWS.

Dirinya, mengklaim kenaikan ini karena masyarakat mulai sadar terhadap hak warga negara untuk melaporkan kejadian kekerasan. Terutama dalam masalah KDRT. “Mungkin semakin sadarnya masyarakat terhadap hak-hak yang dimiliki oleh perempuan,” jelas Festo.

Meski tak bisa di pungkiri , kasus kekerasan terhadap anak jumlah pelaporan masih minim. Ia menilai karena hal tersebut masih dianggap tabu oleh masyarakat.

“Bila korbannya anak-anak jumlah per pelapor sangat relatif mendapat angka pastinya. Karena faktanya di masyarakat masih ada tindak pidana yang tidak dilaporkan apalagi kasus anak-anak yang dianggap tabu,” ujarnya.

Disamping itu, Polda Jatim saat ini tengah melakukan upaya pendekatakan kepada elemen masyarakat. Supaya kalau melihat atau mengetahui tetangga yang mengalami kasus kekerasan bisa segera melaporkan ke pihak kepolisian.

Polda Jatim tengah gencar memberikan sosialisasi terkait undang-undang terhadap perlindungan perempuan dan anak kita juga bekerjasama dengan swadaya masyarakat dan instansi pemerintah. Tujuannya agar masyarakat sadar hukum dan menjauh dari permasalahan KDRT. (fatur)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More