Home Khasanah Ketika Gua Jadi Tempat Khalwat Dengan Allah (bagian 3 – habis)

Ketika Gua Jadi Tempat Khalwat Dengan Allah (bagian 3 – habis)

by Fatur Rohman
0 comment 123 views

 

 

Fakta gua Hira’ adalah masjid yang tegak sebelum Islam adalah benar. Gua itulah yang sejatinya adalah masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu pulalah Rasul Saw. melaksanakan shalat, itikaf dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu. Demikian halnya di gua itu pulalah ayat-ayat pertama Al-Quran, lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, diturunkan Allah SWT melalui malaikat Jibril.  

Gua Hira’ juga semestinya dipandang sebagai masjid, walau kehadirannya mendahului masa masjid-masjid. Andaikan tak tepat untuk dikatakan bahwa Rasul Saw. telah bersujud di gua tersebut, selayaknya gua tersebut dapat dikatakan sebagai tempat sembahyang. Seperti diketahui, masjid dapat disebut sebagai tempat sembahyang, seperti halnya pula dapat disebut sebagai tempat ruku‘. Namun, istilah masjidlah yang lebih acap dipakai.

Nah, jadi jangan heran bila kebiasaan nabi ber-khalwat, atau ber-bertafakur di gua juga banyak dilakukan oleh sebagian umat Islam Nusantara. Hal ini sudah jelas, nabi SAW sendiri melakukannya sebelum beliau diangkat sebagai nabi oleh Allah Azza Wa Jalla.

Seperti halnya di Nusantara, para ulama atau para wali juga banyak yang mengikuti jejak rasullah . Diantaranya adalah Sunan Kalijaga saat ia masih belum mendapatkan pencerahan dari gurunya (Sunan Bonang). Sunan Kalijaga alias Raden Said, adalah  mantan dedengkot “Brandal Lokajaya” yang akhirnya bertobat.

Menurut sejarah, ketika Raden Said sedang mencari tempat untuk menenangkan diri, dia mencari gunung dan menemukan gua. Dia lantas ber-khalwat di tempat yang kini disebut sebagai Gua Langsih (kawasan bukit Surowiti, Gresik, Jawa Timur).  Ketika dia sudah bergelar Sunan, beberapa benda pribadinya ditinggal di tempat itu agar dia ingat di manakah dia dulu pernah mengasingkan diri (khalwat). Sebagian disimpan di dalam gua, sebagian yang lainnya disimpan di tempat yang kini didirikan sebuah bangunan “pesarean”.

Nah, dari sinilah ada perbedaan niat.  Bila mengikuti jejak rasul, tentulah datang ke gua untuk ber-tafakur agar lebih dekat dengan Rab-Nya. Namun belakangan ini malah berbeda niat, yang dicarinya adalah urusan duniawi saja.

Banyak yang berbondong masuk gua, pinginnya pulang jadi kaya. Inilah kepandaian setan, membelokkan angan manusia agar tersesat. Contohnya di gua Langsih ini,  dikenal sebagai petilasan Sunan Kalijaga dan rajin dikunjungi tamu dari berbagai tempat untuk berdoa dan “ngalap berkah”. Hingga entah dari mana asal usulnya, kemudian muncul kabar yang mengatakan bahwa gunung ini merupakan tempat pesugihan dan tempat orang mencari tuyul. Tentu saja saya yang mendengarnya merasa miris.

Peninggalan wali yang seharusnya sebagai jejak agar lebih mendekatkan diri dengan Allah. Bukan malah dikaitkan dengan ritual mistik yang sangat jauh dari tuntunan Islam; tempat orang frustasi mencari pesugihan dan mengadopsi tuyul , naudzubillahi min zdalik.

Ada sebagian orang memohon agar mendapat rejeki dan kelancaran usaha di tempat sepi, sepertihalnya gua. Mungkin karena kemudian doanya terkabul, mereka lantas jadi makin sering berkunjung untuk berdoa, bahkan tak jarang membawa teman dan kerabat untuk berdoa bersama.

Dalam waktu – waktu tertentu sebagian masyarakat meyakini sebagai waktu yang baik untuk memanjatkan permohonan kepada sang Khaliq. “ Umumnya jumlah pengunjung meningkat drastis saat malam Jumat Legi dan bulan Suro (Muharram), bulan pertama dalam sistem penanggalan Jawa. Selama bulan ini, banyak orang berdoa dan ber-tafakur sebulan penuh” kata Gus Wulyo tokoh masyarakat yang tinggal di sekitar gua tersebut.

Yang paling sering datang berkunjung, tutur Gus Wulyo, adalah para kyai dari Lamongan. Namun tidak jarang pula ditemui kyai dari daerah lain. Entah kyai atau dukun dia juga tidak tahu pasti. Yang dia tahu. mereka umumnya datang berombongan atau membawa tamu dalam jumlah banyak.

Sebuah catatan khusus, seperti apa yang dilakukan nabi SAW, datang ke gua atau tempat sepi untuk ber-khalwat, tafakur dalam rangka mempertebal iman. Dalam hal ini semestinya melepaskan keinginan keduniawian. Nah, … apabila dari rumah yang dipikirkan memohon keduniawian di dalam gua, di khawatirkan malah kerasukan setan,  dengan cara merasuki pikiran kita karena senantiasa menyesatkan manusia .

Selain ber-khalwat kaum muslimin juga mempunyai budaya tafakur untuk mempertebal keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Rasulullah saw memberikan tata cara agar kita tidak salah dalam bertafakur. Baginda nabi memerintahkan kita untuk ber-tafakur mengenai makhluk ciptaan Allah SWT. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan menjangkaunya, ditakutkan akan tersesat. Terlebih menjalaninya tanpa petunjuk seorang guru. (fatur/berbagai sumber)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More