Home Khasanah Ketika Gua Jadi Tempat Khalwat Dengan Allah (bagian 2)

Ketika Gua Jadi Tempat Khalwat Dengan Allah (bagian 2)

by Fatur Rohman
0 comment 135 views

Bagi umat rosullulah, peristiwa di gua Hira adalah sangat fundamental, karena menandai dimulainya suatu karya kenabian, dengan diterimanya wahyu pertama dari Allah Swt. di hari Senin, 17 Ramadhan/6 Agustus 610 M . Kala itu beliau sedang khusuk bertafakkur,

Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” . (Al-‘Alaq  1-5). 

Dari sinilah Muhammad bin ‘Abdullah diangkat sebagai Nabi Allah. Ketika itu beliau menginjak usia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun Bulan (Qamariyyah) atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun Matahari (Syamsiyyah). Nah.. yang jadi pertanyaan? kok nabi memilih gua Hira diatas gunung Nur (jabal Nur).

Tugas utama kenabian yang emban Rasul SAW adalah untuk mengantarkan umat menuju cita ideal dikehendaki Allah SWT. Tindakan menyendiri ke tempat yang sepi dan terpisah dari kehidupan masyarakat ramai tersebut sejatinya adalah sebagai persiapan untuk menerima dan melaksanakan tugas besar untuk seluruh umat. Nah…disinilah misterinya ,sebab setiap tindakan besar yang hendak mengubah dan membentuk dunia harus muncul sosok yang menjadi suri tauladan umat juga. Rasullulah mempunyai kemampuan mumpuni yang tak bisa dibandingkan dengan manusia lain.

Pertama, kemampuan untuk melakukan penjarakan terhadap kenyataan yang kongkrit (detachment). Dengan mengambil jarak atas kenyataan itu, seorang “agen” akan mampu melihat dunia dengan seluruh kekurangan, kelebihan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Dunia tak bisa diubah dan diantarkan menuju kemungkinan yang lebih baik, jika seorang “agen” tenggelam sepenuhnya dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk terlibat kembali selepas momen penjarakan dilakukan beberapa saat (reattachment). Saat pengambilan jarak, atau dalam kasus Rasulullah SAW. disebut tahannuts, hanyalah situasi sementara agar seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Saat terpenting justru berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.

Sementara Al-Ghazali, dalam karyanya Ihya ulum al Din, dalam komentarnya tentang jalan yang ditempuh Rasulullah SAW. ketika melakukan tahannuts di Gua Hira’, menulis, “Manfaat pertama (tahannuts) adalah pemusatan diri dalam beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi. Inilah yang disebut kekosongan. Padahal, tiada kekosongan dalam bergaul serta mengisolasi diri. Mengisolasi diri jelas lebih baik. Malah, Rasulullah SAW, di permulaan kenabian beliau gemar menyendiri di Gua Hira’ serta mengisolasi diri. Sehingga cahaya kenabian dalam diri beliau menjadi kuat. Ketika itu para makhluk tidak kan kuasa menghalangi beliau dari Allah. Sebab, meski tubuh beliau beserta para makhluk, namun kalbu beliau senantiasa menghadap Allah.”

Gua Hira’yang terletak di sebelah timur Masjid Al-Haram dan di puncak Jabal Nur ini . Tingginya dari permukaan laut sekitar 621 meter dan sekitar 281 meter dari permukaan tanah. Untuk mendaki sampai ke gua itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam. Gua itu sendiri tidak terlalu besar dan pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk shalat dua orang, sedangkan di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup untuk digunakan shalat untuk shalat dalam keadaan duduk.

Kondisi Gua Hira’ yang demikian itu jelas merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Rasulullah Saw. untuk bertahannuts. Suasana yang tenang, jauh dari keriuhan Kota Makkah kala itu, dengan jumlah warganya sekitar lima ribu orang, pandangan yang terbuka ke tempat-tempat di bawahnya, terutama pandangan ke arah Masjid Al-Haram, dan pandangan ke padang pasir luas dan langit nan seakan tanpa batas, dapat dibayangkan dapat memberikan kesempatan bagi beliau untuk “beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi” seperti dikemukakan Al-Ghazali. (fatur.2)

 

 

 

 

 

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More