Home Khasanah Islam Di Indonesia “Terbaik” Di Dunia (bagian 3)

Islam Di Indonesia “Terbaik” Di Dunia (bagian 3)

by Fatur Rohman
0 comment 142 views

Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia.

Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan. Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma).

Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia. Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Hai fulan, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya juga pesek, orang tuanya hidungnya mancung anaknya ikut mancung, orang tuanya hitam anaknya semestinya hitam. Kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya tentu cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Macapat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah .

Hal itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer . Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur  kiwo (teman kiri). Umpama memilih pancer tengen, ketika ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di amalkan seribu kali dzikir ini tiap malam, dengan harapan si wanita nantinya juga akan mencintainya. Bila tidak mau dulur tengen, ada yang memakai “jalur” yang kiri ini, yang dibaca ajian Jaran Goyang , konon lebih cepet si wanita mendadak mencintainya, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan, ada yang memakai “jalur” kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso , kemudian bisa perkasa. 

Mau kaya kalau memakai jalan kanan, membiasakan sholat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu  . Kalau tidak mau jalan kanan, ada yang menggunakan jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang katanya bisa kaya. Maka, kiai dengan dukun itu punya keistimewaan yang berbeda. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar. Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur(cahaya) dengan nar (neraka).

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang (lagu) yang awalan, Maskumambang :

kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni, ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi. Maka menurut masyarakat nahdliyin (NU) ada ngapatimitoni , karena itu turunnya nyawa.

Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal
Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu. Setelah Mijil , tembangnya Kinanti .

Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Masukkan ke TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Waktunya ngaji , malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji malah mancing, potong saja kailnya. Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak.

Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek atau bandel. Perjalanan waktu, si anak mulai mengenal cinta, Asmorodono, tembang tepat mengambarkan perasaan cinta anak manusia.

Setelah itu disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga,  menikah.
Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula . Merasakan manis dan pahitnya kehidupan.

Setelah Dhandanggula , menurut Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma. Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot (kelelawar), kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. 
(fatur/ 3)

Related Articles

Leave a Comment

Dari Santri Untuk Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More